Penjualan Hewan Korban Meningkat

Kompas.com - 30/11/2008, 21:09 WIB

JAKARTA,MINGGU - Semakin mendekati hari raya Idul Adha, angka penjualan hewan korban di Jakarta terus merangkak naik. Sejumlah pedagang mengakui angka penjualan telah naik dua kali lipat dibandingkan sepekan lalu. M ereka rata-rata mampu menjual 4-5 kambing dan 1-2 ekor sapi per hari .

Adapun konsumen membeli lebih awal dengan maksud bisa membeli hewan dengan harga murah. Berdasar pengalaman tahun-tahun sebelumnya, harga hewan terus merangkak naik menjelang perlaksaan kurban.

Zaenal Abidin salah satu penjual kambing di jalan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu (30/11), mengaku bisa menjual empat ekor kambing dalam sehari. "Meski kadang dalam sehari tidak terjual, namun hari berikutnya bisa terjual tujuh ekor kambing. Kalau di rata-rata per hari bisa empat ekor kambing, sapinya kadang satu atau dua, " ujarnya.

Di Jalan Lenteng Agung terdapat sejumlah pedagang hewan kurban dadakan. Mereka berasal dari beberapa daerah , seperti Semarang di Jawa Tengah dan Pacitan di Jawa Timur. Setiap pedagang--yang dibantu oleh belasan karyawan--membawa puluhan ekor sapi dan kambing dari daerah asal. Jumlah ini akan terus bertambah seiring meningkatnya kebutuhan.

Para pedagang memerkirakan 2-3 hari mendatang penjualan hewan korban melonjak hingga empat kali lipat bahkan lebih.

Naiknya permintaan hewan kurban juga dirasakan Maswin, pedagang kambing di dekat pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Pada pertengahan November lalu ia sudah mampu menjual 10 ekor kambing. "Pembelinya tidak saja berasal dari masyarakat, tetapi juga takmir masjid, " kata Maswin yang tahun lalu mampu menjual 80 ekor kambing pada musim haji.

Prawoto, pedagang asal Pacitan yang berada di Jalan Lenteng Agung juga mengaku telah menjual 30 ekor sapi dan 50 ekor kambing. Harga sapi berkisar Rp 6,5- Rp 23 juta, sedang kambing mulai Rp 900.000-Rp 2,5 juta . Ia berencana mendatangkan kembali 20 ekor sapi, meski Senin pekan lalu telah membawa 100 ekor dari Pacitan.

Membaiknya perekonomian masyarakat, menurut Prawoto telah mendongkrak daya beli masyarakat untuk membeli hewan kurban. Berdasar pengalaman tahun lalu dirinya bisa menghabiskan 350 ekor kambing dan 100 ekor lebih sapi.

Harga melonjak

Seiring naiknya permintaan, harga hewan korban pun ikut melonjak. Kambing jenis gibas yang pada hari biasa mencapai Rp 900.000-Rp 1 juta kini menjadi Rp 1.5 juta. Demikian pula harga s api jenis metal ber bobot sekitar 750 k ilogram bisa mencapai Rp 20 juta lebih, atau lebih tinggi Rp 5 juta dari hari biasa.

Menurut pedagang kenaikan harga ini sudah berlangsung dari tingkat petani. Harga sapi umur 2 tahun misalnya, jika sebelumnya Rp 5 juta kini menjadi Rp 7-Rp 8 juta.

Kondisi ini masih ditambah dengan motif mencari keuntungan sebesar mungkin oleh pedagang. Mereka berdalih biaya transportasi dan sewa lahan ikut naik. Untuk mengangkut 9 ekor sapi dengan satu truk dari Pacitan, misalnya, memerlukan biaya Rp 3,5 juta. Sedang untuk sewa tempat mencapai Rp 15 juta untuk waktu sekitar 3 minggu.

Meski demikian, menurut Zaenal keuntungan tidak sepenuhnya masuk kantong karena penjual harus mengeluarkan ongkos kirim dari Jawa, ongkos sewa lahan serta makan sapi. "Harga sapi di Jawa pun sudah naik ketika kami mulai mencari-cari sapi. Karena itu saya tidak membeli di pasar melainkan di kampong-kampung di Semarang," kata Zaenal.

 

 

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau