PAN Sudah Ingatkan Ancaman PHK

Kompas.com - 01/12/2008, 09:37 WIB

JAKARTA, SENIN — Partai Amanat Nasional (PAN) sejak pekan lalu sudah memberikan peringatan tentang ancaman peningkatan jumlah pengangguran. Bertambahnya pengangguran ini sebagai akibat PHK yang terpaksa dilakukan sejumlah industri yang beberapa saat sebelumnya sudah terpaksa mengentikan produksi sebagai akibat krisis global.

"Pemerintah tidak bisa lagi diam dan tenang-tenang saja menghadapi ancaman krisis ini. Pemerintah juga harus berani mengakui bahwa kita sekarang sedang menghadapi ancaman krisis dan perlu melakukan langkah-langkah antisipasi," ujar Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir di Jakarta, Senin (1/12).

Menurut Soetrisno, sejak krisis keuangan yang dimulai di Amerika Serikat menyerang beberapa bulan lalu sejumlah pengusaha di Indonesia sudah mengubah strateginya. Para pengusaha ini tidak lagi bisa mengejar keuntungan, pasalnya mereka hanya bisa bertahan dengan mengurangi kerugian.

"Dan meskipun tidak berkeinginan mem-PHK karyawannya, kerugian yang bisa ditanggung juga punya batas maksimalnya. Kalau terus merugi dalam waktu yang cukup panjang, mereka juga terpaksa menghentikan usahanya," ujarnya.

Langkah terbaik, menurut Soetrisno, pemerintah mengajak semua pemangku kepentingan bangsa ini, menyatukan kekuatan untuk membangun negeri ini, dan bertahan dalam badai krisis. "Kita tidak perlu saling mencela dan lakukan yang bisa dilakukan. Gunakan produksi dalam negeri, pilih makanan yang dihasilkan petani-petani kita, sedikit banyak langkah ini akan membantu menggerakkan ekonomi riil," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau