Parpol Pragmatis untuk Generasi Apolitis

Kompas.com - 01/12/2008, 16:03 WIB

KEPENTINGAN pragmatis partai politik untuk meraup suara dalam waktu singkat memunculkan beragam upaya untuk merebut simpati generasi muda yang tidak peduli kepada politik.

Meilan Saidui (20), mahasiswi semester pertama Sekolah Tinggi Ilmu Hukum di Manokwari, Papua Barat, asyik menonton sinetron Kawin Massal.  Walau jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.00, tak henti-hentinya dia bercerita tentang idolanya, Agnes Monica, yang cantik, jago akting, dan merdu suaranya.

Jangan tanya Meilan tentang tokoh politik atau pemerintah. Alisnya langsung mengkerut dan bibirnya tertutup rapat.

Di Palu, Faradilah (19), mahasiswa semester V STMIK Bina Mulia banyak mengisi waktunya dengan nonton sinetron dan infotainment. Acara berita, jarang ditonton. Demikian juga Mad Fadhol (17) dan Isti Wijayanti, keduanya siswa SMA Negeri 1 Samarinda yang sukanya menonton siaran olahraga dan reality show.

Kalangan mahasiswa, Nuzula dari Universitas Negeri Jakarta dan Hety Apriliastuti dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta juga mengakui lebih banyak tertarik pada hiburan dan infotainment daripada memerhatikan berita politik. ”Di jalan-jalan sih belakangan ini banyak tempelan poster wajah caleg, tapi enggak kepikiran,” kata Hety.

Kalau sudah begitu, rasanya tidak aneh ketika Nuzula mengaku tidak tahu kapan pemilu akan dilaksanakan. Kalau tanggalnya saja tidak tahu, bagaimana dengan profil calon legislatif maupun program partai?

”Jangankan memahami caleg, siapa atau bagaimana, partai yang mengusungnya pun saya hanya tahu satu atau dua,” tukas Nurhayati (20), mahasiswi Umitra, Bandar Lampung.

Tak kenal caleg

Lewat jajak pendapat yang dilakukan Litbang Kompas terhadap 221 orang berusia 17-21 tahun yang didefinisikan sebagai pemilih pemula atau memilih untuk pertama kalinya, hanya 2,3 persen yang mengakui tahu banyak tentang program partai politik.

”Tidak ada caleg yang saya kenal, malah saya tidak ingat nama menteri dan dari partai mana dia berasal,” kata Anto (21), warga Kota Makassar yang berprofesi sebagai tukang parkir dengan pendapatan Rp 60.000 per hari.

Walaupun demikian, 80,5 persen menyatakan akan ikut dalam pemilu, baik legislatif maupun presiden. Keinginan untuk ikut memilih ini disambut positif oleh Direktur Eksekutif Centre for Electoral Reform (Cetro) Hadar Gumay.

Menurut dia, walau 67,4 persen motivasi mereka hanya untuk menunaikan hak dan sebagian menyebutnya kewajiban, ini adalah hal positif yang bisa menjadi dasar pemikiran bahwa pemilu adalah hal penting.

Gancar Tri Wicaksono (18), atlet biliar dari Universitas Jenderal Sudirman Purwokerto mengaku antusias untuk ikut Pemilu 2009. Ia sangat berharap lewat pemilu nanti akan terpilih anggota legislatif yang membawa perubahan di bidang ekonomi sehingga harga BBM dan makanan tidak naik terus. ”Lewat kawan-kawan dan isu yang berkembang bisa ketahuan mana yang baik,” katanya.

Para pemilih pemula ini rupanya memandang kejujuran sebagai kriteria utama mereka memilih anggota legislatif atau presiden. Pengalaman kepemimpinan juga dianggap perlu, tanpa memedulikan usia ataupun program.

Melihat potensi pemilih pemula yang menggiurkan—jumlahnya mencapai sekitar 36 juta orang atau 19 persen dari pemilih total—mayoritas partai politik menyusun strategi untuk merebut suara mereka.

Strategi parpol

Mengakui kesulitan untuk menembus dinding ketidakpedulian para pemilih muda ini, Partai Golkar dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan mengambil langkah pembentukan citra. Mereka mengadakan acara-acara yang sepertinya cocok dengan selera anak muda.

Wakil Sekjen Golkar Rully Chairul Azwar bercerita bagaimana anak-anak dari anggota Partai Golkar, misalnya, yang tergabung di G23 mengadakan pertandingan futsal dan band indie. Diharapkan, lewat acara ini terjadi pertemanan yang kemudian membuat anak-anak muda tertarik memilih Golkar. ”Anak-anak muda ini tidak sampai berpikir apakah kepentingan mereka diakomodasi Golkar, yang penting image,” kata Rully.

Hal serupa dilakukan PDI-P, yang 11 Januari 2008 mendeklarasikan Taruna Merah Putih. Menurut ketuanya, Maruarar Sirait, pihaknya mengadakan kegiatan seperti bimbingan belajar, pelatihan komputer. Melalui kegiatan tersebut PDI-P ingin membangun citra. Soal pendidikan politik, itu dilakukan sambil jalan.

Sementara Partai Keadilan Sejahtera berupaya memupus citra sebagai partai eksklusif dengan organisasi bernama Gema Keadilan (GK). GK dibuat untuk meraih pemilih pemula dan anak muda. Menurut ketuanya, Rama Pratama, penjaringan diambil dari simpul-simpul massa dari komunitas yang sudah ada, seperti Jakmania, suporter Persija.

Mereka juga berusaha membuka diri terhadap komunitas yang selama ini tidak tersentuh, seperti preman serta komunitas musik Slank dan Iwan Fals. ”Kalau soal pendidikan politik, yah proseslah,” katanya.

Bentuk bimbingan tes dan olahraga dilakukan Partai Demokrat untuk meraih simpati pemilih pemula. Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum menargetkan kedekatan psikologis lewat kegiatan sporadis.

Terkait itu, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hermawan Sulistyo, mengomentari, upaya yang dilakukan parpol-parpol itu bukanlah pendidikan politik, bahkan bisa dikatakan memanipulasi. ”Mereka hanya berusaha mengubah paradigma bahwa politik itu adalah kursi dan rezeki, tetapi tidak sampai pada politik adalah proses pengambilan keputusan publik. (EDN/MDN/MHD/REN/ ICH/ROW/HLN/BRO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau