33 Juta Orang Hidup dengan HIV

Kompas.com - 01/12/2008, 19:39 WIB

JAKARTA, SENIN - Situasi epidemi HIV di dunia menunjukkan saat ini ada 33 juta orang hidup dengan HIV. Menurut laporan UNAIDS, pada tahun 2007 terdapat sebanyak 2,7 juta infeksi baru HIV dan dua juta orang meninggal karena AIDS.

"45 persen infeksi baru terjadi pada usia antara 15-24 tahun," kata Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat sekaligus Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional Aburizal Bakrie saat membuka Pekan Kondom Nasional 2008 di Jakarta, Senin (1/12).  

Pada Pekan Kondom yang dibarengi dengan Konferensi Kondom bertema Gunakan Kondom dan Selamatkan Banyak Jiwa tersebut dipaparkan bahwa hampir 1.800 orang yang hidup dengan HIV positif adalah anak di bawah usia 15 tahun yang tertular dari ibunya, dan sekitar 1.400 anak meninggal akibat AIDS.

"Penularan virus HIV melalui hubungan seksual berisiko di Indonesia cukup tinggi, yakni sekitar 50,2 persen," kata Sekretaris KPA Nasional Nafsiah Mboi.

Selain itu, kasus aborsi juga tinggi, yakni sekitar 2,3 juta per tahun. Fenomena yang menyangk ut generasi muda Indonesia ini, antara lain disebabkan minimnya pendidikan seks di kalangan kaum muda.

Sampai akhir September 2008, Depkes mencatat 21.151 orang di Indonesia telah terinfeksi HIV, 15.136 orang sudah dalam fase AIDS, dan sebanyak 54,3 persen di antaranya kaum muda berusia 15-29 tahun.  

Beberapa upaya yang harus dilakukan untuk menghindari penularan HIV antara lain dengan pantang seks alias tidak melakukan hubungan seks, jika melakukan hubungan seks sebaiknya dengan satu pasangan.

"Jika dua-duanya tidak bisa, maka sebaiknya memakai kondom," kata Nafsiah.

Namun, menurut Lula Kamal yang menjadi aktivis untuk isu HIV/AIDS, sangat susah baginya mempromosikan penggunaan kondom bagi mereka yang memiliki perilaku seks berisiko tinggi.

"Di Jakarta saja, ibu-ibu yang dari penampilannya berasal dari kalangan berada dan berpendidikan salah mengerti terhadap iklan saya yang mempromosikan pemakaian kondom. Saya dianggap menganjurkan hubungan zinah," kata Lula Kamal.

Menurut Lula Kamal, promosi pemakaian kondom sebaiknya dipandang sebagai upaya untuk menghindarkan diri dari penularan HIV/AIDS.  "Sebaiknya kita realistis saja terhadap apa yang terjadi di sekitar kita," kata Lula Kamal.

Mengenai rendahnya pemakaian kondom, hal itu dibenarkan oleh Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Sugiri Syarief. Pengetahuan perempuan yang telah menikah berusia antara 15-49 tahun mengenai manfaat kondom sebanyak 76,8 persen.

"Ini angka yang cukup tinggi. Tapi sayangnya tidak dibarengi dengan pemakaian kondom. Hanya di tingkat pengetahuan saja. Sedangkan pemakaian kondom hanya 1,3 persen," kata Sugiri Syarief.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau