PDP akan Rebut Suara Golput

Kompas.com - 01/12/2008, 20:04 WIB

JAKARTA, SENIN - Ketua Plh Pimpinan Kolektif Nasional (PKN) Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) Roy BB Janis mengemukakan, untuk memenangkan pemilu legislatif 2009, PDP antara lain akan mendekati kelompok-kelompok masyarakat yang akan golput supaya memihak dan mendukung partainya. "Orang-orang yang golput umumnya kesadaran politiknya tinggi tentu akan berpihak pada kita apalagi kalau didekati dan kita yakinkan secara baik-baik," ujar Roy BB Janis dalam HUT ke-3 PDP sekaligus pembekalan Caleg DPR RI, di Hotel Peninsula Jakarta, Senin (1/12).

Roy mengatakan, golput yang sebagian besar orang-orangnya kritis tentu aspirasinya sama dengan PDP yakni ingin memperbaiki negara ini supaya baik.

Roy juga menjelaskan, PDP satu-satunya partai yang peduli pada caleg perempuan. Dibandingkan dengan partai lain, jumlahnya terbanyak. Dari 401 caleg dari 77 daerah pemilihan (dapil), 42 persennya caleg wanita. "Kenapa kita peduli pada kaum wanita. Supaya wanita Indonesia sehat-sehat semua dan jika sehat akan melahirkan anak-anak yang sehat. Jika itu terjadi, maka calon-calon pemimpin kita nanti orang-orang yang sehat lahir dan batin," kata Roy Janis.

Sedangkan Koordinator PDP Laksamana Sukardi menyatakan keyakinannya, perolehan suara PDP pada pemilu 2009 minimal 16 persen. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh internal partainya, 60 persen swing voter akan lari ke PDP. "Sebetulnya ini belum waktunya kita sampaikan, tapi nggak apa-apalah demi perkawanan kita," tegas Laksamana.

Laksamana yakin bahwa PDP akan menang pemilu dilandasi pengalaman, setiap pemilu partai-partai baru selalu ada yang menang. Sebagai contoh, pada pemilu 1999 PDIP, sebagai partai baru tandingan PDI pada waktu itu, menjadi pemenang pemilu dengan peraihan suara 34 persen. Tetapi pada pemilu 2004 suaranya merosot menjadi 19 persen. Sementara partai baru yang mencuat adalah Partai Demokrat.

"Nah, pada pemilu 2009, PDP sebagai partai baru bakal menang, tanda-tandanya sudah makin jelas. Jangan dikira rakyat kita bodoh, mereka bisa memvonis partai yang suka kerjanya membohongi," tegas  Laksamana.

Laksamana mengkritik ada orang yang mendirikan partai hanya untuk dipakai sebagai kendaraan politik menjadi capres. Lalu, ada orang yang ingin jadi capres lewat partai politik yang dia beli. Juga ada partai yang mengajukan capres daur ulang. "Kita juga heran kenapa mereka nekat ya, padahal, keledai saja tak mau jatuh di lobang yang sama," ujar Laksamana.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau