DORASAN, SENIN - Korea Utara mulai memperketat perbatasan dan pintu-pintu pelintasannya dengan Korea Selatan, Senin (1/12), sebagai tindakan protes atas kebijakan bermusuhan Korsel. Tindakan Korut itu bisa memukul kawasan industri bersama yang dibangun kedua Korea itu sebagai simbol rekonsiliasi.
Pintu pelintasan barat kedua Korea di Dorasan dibuka pada pukul 09.00, atau mundur satu jam dari biasanya. Mulai Senin, Korut hanya akan membuka gerbangnya enam kali dalam sehari di tiga pintu pelintasan dibandingkan dengan 19 pintu pelintasan pada waktu sebelumnya.
Sejumlah saksi mata dan pejabat mengatakan, Pemerintah Korut juga mengurangi jumlah kendaraan dan orang yang diizinkan melintas pada satu waktu pembukaan menjadi setengah dari biasanya.
”Sangat disesalkan bahwa Korut memperketat pembatasan atas pelintasan. Tindakan Korut itu harus segera ditinjau kembali,” ungkap Menteri Unifikasi Korsel Kim Ho-nyeon, seperti dikutip televisi BBC.
Korut juga menunda perjalanan kereta api lintas batas dan program tur satu hari. Pyongyang juga mengusir ratusan pekerja Korsel di kawasan industri Kaesong yang berada di dekat pintu pelintasan Dorasan yang dipagari sangat rapat.
Komite Pengelola Kawasan Industri mengungkapkan, Pemerintah Korut memutuskan hanya mengizinkan kurang dari 1.000 warga Korsel yang bekerja di Kaesong, atau jauh di bawah 1.600 hingga 1.700 orang yang diminta Pemerintah Korsel untuk menjaga agar industri di sana bisa beroperasi normal.
”Kedua pihak masih melakukan pembicaraan dan berupaya mencocokkan angkanya,” kata seorang pejabat.
Lebih dari 4.000 pegawai dan manajer Korsel sebelumnya telah mendapatkan izin untuk berkunjung atau tinggal di Kaesong. Ratusan dari mereka akhirnya terpaksa berkemas dan pergi dari Kaesong akhir pekan lalu.
Dikurangi
Pada Senin pagi terlihat konvoi pertama truk-truk panjang dan mobil-mobil Korsel melalui perbatasan kedua Korea. Total 150 kendaraan yang melintas, berkurang dari biasanya yang mencapai 250 kendaraan. Dua prajurit Korut bersenjata memerhatikan konvoi kendaraan itu. Sebuah jip militer mengawal kendaraan-kendaraan itu dalam perjalanan menuju Kaesong.
”Kontrol perbatasan itu telah memaksa perusahaan kami mengurangi jumlah pegawai yang tinggal permanen dari dua menjadi satu orang di Kaesong,” kata Yu Jong-Gun, kontraktor bangunan Korsel di Kaesong.
Sekitar 35.000 warga Korut yang mendapatkan penghasilan sekitar 70 dollar AS per bulan bekerja di 88 perusahaan Korsel di Kaesong, yang memproduksi barang-barang seperti jam tangan, pakaian, sepatu, dan alat dapur. Kawasan industri itu pertama kali berproduksi pada Desember 2004, yang menggabungkan model Korsel dengan tenaga kerja murah Korut. Proyek ini bertujuan mempersempit jurang kemakmuran yang sangat timpang antara Korut dan Korsel yang kapitalis.
Korut mengatakan, pengetatan lintas batas itu merupakan respons atas kegagalan Presiden Korsel yang konservatif, Lee Myung-bak, menghormati kesepakatan hasil KTT dua Korea yang dicapai antara Pyongyang dan pemimpin liberal Seoul yang digantikan Lee. Korut juga marah atas selebaran propaganda yang diterbangkan dengan balon oleh para pejuang hak asasi Korsel.
Pekan lalu BBC melaporkan, para aktivis mengirimkan ribuan selebaran propaganda ke Korut, mengabaikan ancaman-ancaman dari Korut bahwa hal itu bisa memperburuk hubungan kedua negara. (AFP/Reuters/OKI)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang