BANTUL, SELASA - Serangan penyakit pathek membuat hasil panen petani cabai di pesisir Pantai Samas Bantul tidak maksimal. Penyakit itu membuat cabai mengering sebelum masak. Petani terpaksa memanen dini ketika cabai masih hijau. Akibatnya harga jualnya merosot hingga Rp 1.500 per kilogram.
Sudi Raharjo (50), petani yang mengolah lahan seluas 700 meter persegi, Selasa (12/2) mengaku terpaksa memanen lebih awal karena takut cabainya mengering. Kalau sudah kering, cabai-cabai itu tidak akan laku dijual. "Mending dipanen ketika masih hijau, meski harga sangat murah daripada tidak laku sama sekali," katanya.
Akibat panen dini, hasil yang diperoleh petani tidak maksimal. Bila dipanen saat sudah memerah harganya bisa mencapai Rp 4.000/Kg untuk jenis lokal, dan Rp 7.500/Kg untuk jenis Prada.
Panen dini membuat proses pembuahan cabai terganggu. Sebab, cabai-cabai yang dipanen ketika masih hijau membuat tanaman tidak lagi berbunga. Akibatnya, tanaman tidak lagi memproduksi cabai. Menurut Sudi, tanaman yang sudah dipanen dini hanya bisa dicabut dan diganti dengan yang baru.
Tanaman cabai milik Sudi baru dipetik tujuh kali, padahal dalam kondisi normal ia bisa memetiknya hingga 20 kali. Akibat serangan penyakit pathek, ia terpaksa mencabut tanaman cabainya pada petikan ke-tujuh. Rencananya akan saya ganti dengan bawang merah, supaya penyakitnya hilang dulu. Kalau masih tetap cabai takutnya tetap terserang pathek, katanya.
Menurut petani, penyakit pathek mulai menyerang sejak seminggu terakhir. Mereka tidak mengetahui penyebabnya. Petani sudah berusaha menyemprot tanamannya berulang-ulang, namun penyakit itu tak kunjung hilang.
"Kemungkinan penyakit itu datang karena dibawa oleh serangga, tetapi kami tidak tahu jenisnya. Serangannya berlangsung merata ke seluruh lahan garapan petani," kata Pardiyem, petani cabai lainnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang