JAKARTA, SELASA - Sekitar 42 juta orang di dunia terinfeksi HIV dan 25 juta di antaranya adalah pekerja. Di Indonesia, hingga 30 Juni 2008 tercatat 18.963 kasus HIV/AIDS dari kalangan pekerja. Angka ini sangat berpengaruh pada produktivitas perusahaan, mengingat kesehatan karyawan adalah aset bagi perusahaan.
Demikian dikatakan Chair of Executive Board Indonesian Business Coalition on AIDS (IBCA) Shinta Widjaja Kamdani di Jakarta, Selasa (2/12).
"Diperkirakan akan ada 1-5 juta orang terinfeksi HUV dalam 2 tahun mendatang karena ini adalah fenomena gunung es. Bagi kalangan usaha, bisa sangat berdampak karena kelompok usia terbesar terkena penularan HIV sebesar 82 persen adalah kelompok usia produktif 15-49 tahun yang tak lain adalah para pekerja," kata Shinta.
Dampak bagi perusahaan bila membiarkan laju pertambahan penderita HIV dari kalangan pekerja yakni menurunnya produktivitas, kehilangan "the best pepole", meningkatnya karyawan absen.
"Konflik berupa rumor dan gosip akan timbul di lingkungan kerja, menurunkan moral pekerja, yang paling krusial, perusahaan akan mengeluarkan biaya sangat besar untuk pengobatan, rekrutmen karyawan baru bila banyak karyawan ODHA yang dirumahkan," jelasnya.
Solusi yang ditawarkan Shinta untuk mengatasi hal itu adalah mengadopsi program Corporate Social Responsibility (CSR) sehingga tak perlu ada pengeluaran dana.
"Sosialisasi pencegahan agar karyawan tak terinfeksi HIV bisa dimasukkan dalam CSR perusahaan. Dengan pencegahan, perusahaan dapat menghemat 96 persen dan return of investment sebesar 2153 persen," tutur Shinta.
Sedangkan dikatakan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) Nafsiah Mboi, perusahaan justru harus berpikir efek jangka panjang, apalagi di masa krisis yang belum tentu akan segera mereda.
"Pihak pengusaha memiliki 3 peran strategis dalam isu ini yakni pertama, mencegah pekerjanya yang telah terinfeksi HIV tak menjadi AIDS. Karena pengidap HIV itu masih produktif dan bisa bekerja normal hanya dia terinfeksi HIV, nah, pengusaha bisa mencegar agar ia tak menurun kondisinya dan terkena AIDS," jelasnya.
Kedua, perusahaan perlu mensosialisasikan cara penularan HIV dengan benar dan menjaga perilaku karyawan HIV agar virus tak menyebar terlalu luas. Ketiga, menciptakan lingkungan yang bersahabat bagi ODHA dan karyawan lain sehingga produktivitas dan iklim kerja tetap terjaga.
"Tak perlu ada diskriminasi dalam perlakuan antara karyawan ODHA dan bukan, dan menginformasikan penularan HIV dengan benar, itu kunci rumor tak tersebar," kata Nafsiah. Ia juga mengatakan bagi pekerjaan-pekerjaan tertentu yang high risk dan penuh tekanan seperti pertambangan, transportasi, pelayaran, TNI perlu diprioritaskan untuk sosialisasi pencegahan HIV/AIDS.
"Mereka ini kan kadang ditempatkan di tempat terpencil dalam waktu lama dengan tekanan tinggi yang memicu stres, seks biasanya menjadi pelampiasannya, maka banyak terjadi penyakit Infeksi Menular Seksual dan HIV karena melakukan hubungan seks beresiko tinggi," papar Nafsiah.
Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi, di masa krisis, fenomena gunung es banyaknya pekerja terinfeksi HIV bisa meningkat dan tentunya akan merugikan perusahaan.
"Satu-satunya cara untuk membuka mata kalangan pengusaha bahwa isu ini penting adalah membukakan fakta dampak penyakit ini pada profitabilitas usaha mereka. Upaya penyadaran dulu di kalangan pengusaha," kata Sofjan.
Sofjan menjelaskan telah membentuk tim untuk mensosialisasikan pencegahan HIV melalui perusahaan-perusahaan besar yang diharapkan dapat dibagikan pada perusahaan menengah dan usaha kecil.
"Sebulan sekali kami lakukan training untuk mengkampanyekan isu ini secara meluas di lingkungan kerja," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang