Sutiyoso Temukan Metode Atasi Krisis

Kompas.com - 03/12/2008, 03:26 WIB

JAKARTA, RABU - Bakal Calon Presiden dari Partai Indonesi Sejahtera (PIS), Sutiyoso mengaku telah menemukan metode yang paling tepat untuk mengakhiri krisis yang berkepanjangan, karena dia telah mempelajarinya dari negara-negara yang juga pernah mengalami hal yang relatif sama dengan Indonesia. “Saya sudah belajar banyak dari negara-negara yang pernah mengalami krisis. Dengan sumber daya alam yang kita miliki, akan menjadi mudah untuk keluar dari krisis,” ujar Sutiyoso usai menerima Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Alexander Ivanov di Bang Yos Center (BYC), Jakarta, Selasa (2/12).

Sutiyoso mengatakan, diperlukan seseorang yang bisa mengelola SDA itu dengan benar. Dia belajar dari Rusia sebagai negara yang pernah besar kemudian jatuh di era Perestroika dan Glasnost dan kini bangkit lagi. “Dulu Indonesia di era kerajaan juga pernah menjadi negara kuat, namun tidurnya terlalu lama sampai sekarang. Oleh karena itu kini saatnya Indonesia menjadi negara kuat. Ini hanya bisa terjadi bila Indonesia dipimpin oleh presiden yang kuat, tegas dan teruji,” ujar Sutiyoso.

Selain Rusia, dia juga mengaku telah belajar dari China dan India yang benar-benar menjadi negara baru yang kuat di segala bidang. Ketika jadi gubernur dia memiliki hubungan baik dengan seluruh duta besar Negara sahabat yang ada di Jakarta dengan memberikan layanan yang baik kepada mereka. “Itu saya lakukan agar mereka bisa memandang kita sebagai negara yang baik dan aman. Dari hubungan baik inilah saya banyak belajar, bagaimana negara-negara sahabat itu memecahkan masalah-masalah mereka,” tegas Sutiyoso.

Menurut dia, krisis global ini akan menjadi momentum bagi negara seperti Rusia, Cina dan India. Mereka akan menarik keuntungan dari krisis ini, karena mereka memiliki landasan yang kuta dalam menghadapi krisisi. Ini berbeda dengan negara yang tidak siap yang tidak bisa memanfaatkan kekuatannya.

Sutiyoso mengaku dengan modal hubungan baik yang telah terbina sejak menjabat Gubernur DKI Jakarta dulu, maka kalau terpilih nanti menjadi presiden tentu kerjasama itu bisa ditingkatkan untuk mengakhiri krisis.

Sementara itu Alexander Ivanov sendiri mengakui bahwa Pemerintah Rusia selama ini sudah memiliki hubungan yang baik dengan Sutiyoso sejak dirinya menjadi Gubernur DKI Jakarta. Kunjungannya ke BYC hanya untuk melanjutkan hubungan baik itu dengan Sutiyoso. “Kunjungan saya hanya untuk melanjutkan hubungan baik yang sudah terjalin selama ini antara kami dengan Sutiyoso,” kata Alexander Ivanov.

Ketika ditanyakan apakah kunjungannya untuk memberikan dukungan kepada Sutiyoso sebagai salah satu calon presiden alternatif yang diinginkan oleh Rusia untuk bisa menyaingi dominasi Barat di Indonesia, Ivanov mengatakan tidak. “Kami sama sekali tidak membicarakan mengenai dukung mendukung untuk pencapresan. Kami hanya membicarakan bagaimana membuat satu arsitektur baru perekonomian dunia untuk bisa keluar dari krisis yang melanda dunia saat ini. Saya juga sekaligus ingin meng-up date informasi mengenai Rusia saat ini kepada Sutiyoso,” tegasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau