Industri Unggas Memberi Harapan

Kompas.com - 03/12/2008, 05:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS - Krisis keuangan global mengimbas semua sektor. Dampaknya diperkirakan semakin nyata pada tahun 2009. Meski begitu, prospek industri unggas diperkirakan tetap menjanjikan karena di tengah penurunan daya beli akan terjadi substitusi pangan ke produk unggas.

Ketua Pusat Informasi Pasar (Pinsar) Unggas Nasional, Hartono, Selasa (2/12) di Bogor, memperkirakan, produk unggas yang akan tetap bertahan, bahkan bisa meningkat produksinya, adalah telur ayam. ”Karena telur merupakan jenis makanan yang berprotein tinggi, murah, mudah dijangkau, dan praktis,” paparnya.

Krisis keuangan global pasti akan menurunkan daya beli masyarakat. Karena daya beli turun, konsumsi juga berkurang. Penurunan daya beli akibat melemahnya kinerja berbagai sektor pada akhirnya mengakibatkan banyak pemutusan hubungan kerja.

Meskipun daya beli turun akibat pendapatan berkurang, masyarakat tetap perlu makanan bergizi tinggi. Maka, akan terjadi substitusi sumber protein dari semula daging dan ikan ke telur.

Hartono memperkirakan tahun 2009 produksi telur akan meningkat 5 persen dari produksi tahun ini yang diperkirakan mencapai 860.000 ton.

Berbeda dengan telur, produksi daging ayam justru melandai. Hal itu mengingat harga daging ayam cukup mahal, mencapai Rp 25.000-Rp 30.000 per ekor. Berbeda dengan telur yang hanya Rp 16.000 per kilogram (kg). Tahun 2009, produksi daging ayam diperkirakan mencapai 910.000 ton.

Di bawah target

Ketua Umum Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia, Don Utoyo menyatakan, secara umum pertumbuhan industri perunggasan 2009 memang agak berat. Apalagi tahun ini pertumbuhan subsektor perunggasan di bawah target 7 persen, yakni 3-4 persen.

Meski begitu, konsumsi daging dan telur ayam masih bisa ditingkatkan. Caranya dengan mengajak masyarakat untuk selektif membelanjakan uang. Misalnya, mengalihkan belanja komunikasi atau telepon ke makanan bergizi.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Budiarto Soebijanto menyatakan, pihaknya pesimistis akan ada pertumbuhan maksimal untuk industri perunggasan.

Memang benar akan terjadi substitusi ke produk unggas karena telur memiliki banyak keunggulan komparatif. Namun, substitusi itu berlangsung perlahan dan tidak banyak. Secara umum, lapisan konsumsi akan berkurang.

Ketahanan sosial

Hartono menyatakan, tetap prospektifnya industri unggas di tengah krisis keuangan global memberi harapan bagi ketahanan sosial masyarakat. Mengingat sebagian besar usaha peternakan unggas, baik daging atau pun telur, dilakukan di pedesaan.

Subsektor perunggasan juga jadi lokomotif bagi industri pertanian lain, seperti budidaya jagung.

Saat ini sekitar 12,5 juta orang atau sekitar 5 persen orang hidupnya berhubungan dengan industri perunggasan. Dari jumlah itu, ada 2,5 juta pekerja yang bekerja di sektor perunggasan.

ASEAN Business Manager DuPont Andy Gumala mengatakan, harga jagung di pasar AS saat ini turun dari 320 dollar AS per ton pada Juni 2008 menjadi 160 dollar AS. Meski begitu, petani masih dapat untung 50 persen bila mereka menanam jagung dengan produktivitas 7 ton jagung pipilan kering per hektar. Meskipun harga jagung di pasar dunia turun, budidaya jagung masih menguntungkan. (MAS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau