CHICAGO, SELASA — Harga kontrak berjangka beras anjlok ke level terendah dalam setahun. Penurunan ini menandakan, melambatnya perekonomian global turut memangkas permintaan akan suplai beras dari Amerika Serikat (AS) yang merupakan negara keempat terbesar dunia pengekspor beras.
Sejak 1 Agustus hingga 20 November, para importir sudah berkomitmen untuk membeli 1,6 juta ton beras dari AS. Menurut Departemen Pertanian AS pada minggu lalu, angka tersebut turun 22 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Data yang sama juga menunjukkan, pengiriman beras sudah melorot 12 persen menjadi 808.000 ton dari tahun sebelumnya. Sementara itu, jika dibandingkan dengan harga rekor bulan April, kontrak pengiriman sudah tergelincir 48 persen.
“Permintaan di pasar beras benar-benar mengalami penurunan. Buyer banyak yang mundur, sementara penjualan semakin berkurang,” kata Dennis DeLaughter, pemilik Progressive Farm Marketing di Edna, Texas.
Di Chicago Board of Trade, kontrak beras untuk pengantaran Januari turun 7 sen atau 0,5 persen menjadi 12,99 dollar AS per 100 pound (45,35 kg). Sebelumnya, harga beras sempat menyentuh 12,77 dollar AS per pound yang merupakan angka terendah sejak 14 November 2007. Harga tertinggi untuk kontrak ini sempat mencapai 25,07 dollar AS per pound.
DeLaughter mengatakan, para importir saat ini tidak banyak melakukan pembelian sebagai langkah antisipasi harga beras jatuh lebih jauh. “Orang hanya membeli beras sedikit saja. Mereka memutuskan untuk menunggu beberapa minggu ke depan, siapa tahu harga beras akan lebih rendah lagi,” tuturnya.
Berdasarkan data yang dirilis USDA, pada tahun keuangan yang berakhir 31 Juli 2009, Thailand diramalkan akan menjadi pengekspor beras terbesar dunia. Baru kemudian menyusul Vietnam, Pakistan, dan AS.