Pemerintah Untung Rp 30 Miliar

Kompas.com - 03/12/2008, 19:51 WIB

JAKARTA, RABU - Departemen Keuangan (Depkeu) memperkirakan akan memperoleh keuntungan hingga Rp 30 miliar dari dana yang ditanamkan ke pasar modal dalam rangka buy back (pembelian balik) saham BUMN beberapa waktu lalu.
   
"Anggaran yang disetujui oleh DPR (Komisi XI) untuk program buy back waktu itu kan Rp 2,5 triliun," kata Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Rabu (3/12).
   
Ia menyebutkan, yang sudah direalisasikan untuk membeli saham BUMN adalah sebelum Rp 140 miliar yang terdiri dari sembilan BUMN. "Sampai hari ini kami menghasilkan keuntungan Rp 6 miliar dari investasi itu, bahkan kami memperkirakan sampai akhir tahun potensial profitnya bisa sampai Rp 30 miliar dari Rp 140 miliar yang sudah kita tanam," ujarnya.
   
Sri Mulyani juga menyebutkan sesuai dengan kesimpulan rapat Komisi XI DPR, anggaran yang tidak dipakai untuk buy back saham BUMN akan dikembalikan kepada rencana penggunaan awal.
   
Awalnya dana Rp 2,5 triliun dialokasikan untuk rekapitalisasi PTB Perusahaan Pengelola Aset (PPA) sebesar Rp 1 triliun dan alokasi dana yang dikelola oleh badan investasi pemerintah sebesar Rp 1,5 triliun. "Untuk PPA sedang dalam proses untuk penyertaan modal negara dengan penyiapan Perpresnya, dan mungkin akan selesai dalam waktu dekat," jelasnya.
                          
Anggaran Depkeu
   
Sementara itu, mengenai pagu anggaran untuk Depkeu tahun 2009, Menkeu mengatakan, akan ada penurunan sekitar Rp 505,5 miliar dari pagu anggaran semula sebesar Rp 15,9 triliun menjadi Rp 15,4 triliun. Penurunan itu, antara lain karena adanya penurunan pagu anggaran di Direktorat Jenderal Pajak sebesar sekitar Rp 173 miliar.
   
"Pembangunan fisik mulai dari kantor pajak besar, menengah, dan kecil termasuk di Kantor Pusat, sudah selesai pada tahun 2008 ini dan dari sisi fisik, tidak ada lagi," kata Menkeu.
   
Menurut dia, yang cukup rumit saat ini berkaitan dengan Ditjen Pajak adalah penyediaan SDM bidang pajak, terutama auditor pajak. "Kalau melihat negara-negara lain, kita memerlukan tambahan 6.000 hingga 8.000 SDM pajak, ini nanti tentu perlu dukungan anggaran," katanya. *

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau