KAMIS malam, 23 Oktober 2008, dunia perjudian di Riau mendadak geger. Chandra Wijaya (48) alias Acin—yang selama ini dikenal sebagai raja judi kebal hukum —ditangkap polisi. Berkas penyidikan kasusnya saat ini bahkan sudah masuk ke Kejaksaan Negeri Pekanbaru. Cukup cepat.
Tidak hanya Acin yang ditangkap. Sebanyak 26 kaki tangannya berikut pekerja di suatu rumah toko (ruko) dua pintu di Jalan Tanjungdatuk, Pekanbaru, Riau, dibuat tidak berkutik. Selain itu, polisi menyita belasan perangkat komputer, mesin faksimile, kertas-kertas berisi rekapitulasi taruhan dari agen (judi), telepon genggam, dan uang tunai Rp 186 juta.
Hanya Alai, yang tinggalnya sekitar 500 meter dari tempat penggerebekan Acin, yang lolos dari sergapan polisi. Alai, yang memiliki nama lain Ayu, adalah adik Acin yang disebut-sebut sebagai pengendali kerajaan judi abangnya itu.
Ketika akan masuk ke rumah Alai, polisi harus membongkar paksa pintu karena dikunci dari dalam. Saat itu, polisi mendapatkan anak dan istri Alai tengah sibuk membakar puluhan lembar kertas rekapitulasi taruhan dari agen-agen.
Jika sebelum ini Acin dikenal cukup bersahabat dengan ”aparat hukum dan wartawan”, hal itu tentunya mendatangkan pertanyaan. Sebab, sejak gong perang terhadap judi dilancarkan mantan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) Jenderal (Pol) Sutanto, seluruh gembong besar judi Riau tiarap, kecuali Acin.
Beberapa bandar judi besar, seperti Aeng yang menjadi gembong judi sebelum Acin, setelah tertangkap, dikabarkan bangkrut. Ahok, abang Aeng, saat ini buron. DEH, raja judi terbesar di Riau dan Kepulauan Riau, dikabarkan telah menghentikan bisnis ilegal tersebut dan kini beralih ke bisnis di bidang perhotelan dan perkebunan.
Drama tersendiri
Jika menyimak proses penangkapan Acin, bisa dibilang hal itu memiliki drama tersendiri. Menurut Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Riau Brigadir Jenderal (Pol) Hadiatmoko, dia memimpin langsung penangkapan tersebut.
Namun, bukan mustahil gebrakan Hadiatmoko terkait keusilan pers. Dalam beberapa pertemuan, wartawan selalu bertanya kepadanya, mengapa judi masih ada di Riau?
Pasalnya, ketika mulai menjabat Kepala Polda Riau Mei 2008, mantan Direktur V Bareskrim Mabes Polri yang pernah menangani penyelundupan besar di Riau Maret lalu itu menegaskan, dia akan memerangi judi, pembalakan liar, dan penyelundupan.
Dalam mempersiapkan penangkapan tersebut, Hadiatmoko secara diam-diam membentuk tim khusus yang langsung berada di bawah kendalinya. Tim bekerja secara rahasia dengan anggota pilihan yang disumpah untuk tidak membocorkan rahasia. Penangkapan dimulai dari tingkat pengecer dan berlanjut ke beberapa agen.
”Ternyata, dari penangkapan pengecer dan agen-agen tersebut, semuanya bermuara ke Acin,” kata Hadiatmoko menceritakan.
Pasca-Idul Fitri, giliran Acin yang ditangkap. Namun, polisi terus mengumpulkan informasi tentang kebiasaannya. Hadiatmoko dalam beberapa kesempatan bahkan berjalan sendiri atau ditemani istrinya untuk mendatangi ruko yang dijadikan markas judi Acin atau sekadar melihat-lihat rumah raja judi itu yang berlokasi di Jalan Rokan, Gang Pinang I, Pekanbaru.
Kedai kopi
Operasi penangkapan Acin, lanjut Hadiatmoko, dimulai pagi hari. Kamis itu, katanya, dia mengikuti gerakan Acin mulai dari yang bersangkutan masuk ke kantor notaris sampai ke kedai kopi di Jalan Setiabudi.
”Sekitar setengah jam di warung itu, dia keluar. Setelah beranjak sekitar satu kilometer, mobil polisi memepet mobilnya yang saat itu dikendarai anak lelakinya,” cerita Hadiatmoko.
Pengawal Acin yang berada di depan langsung turun. Namun, begitu melihat Hadiatmoko, pengawal yang diduga sebagai anggota polisi itu langsung kabur. ”Kapolda, Kapolda,” begitu dia berkata sambil berlari.
Siapakah Acin? Tidak banyak yang tahu tentang pemilik rumah termegah di kawasan Jalan Rokan, Pekanbaru, itu. Dari penelusuran Kompas, Acin berasal dari Selat Panjang, Bengkalis, Riau. Ia merantau ke Pekanbaru pertengahan tahun 1980-an.
Ketika sampai di Pekanbaru, Acin bekerja sebagai petugas pencatat marka pada rumah biliar, milik seorang bandar besar judi di Pekanbaru. Karena pintar bergaul, Acin berhasil masuk ke bisnis judi milik bosnya dan kemudian dipercaya menjadi pengecer. Dalam waktu singkat, dia naik pangkat menjadi agen.
Saat Aeng dan Ahok menjadi gembong judi, pertengahan 1990-an, Acin berada di bawah dua bersaudara itu dan menjadi agen besar. Ketika itu, nama besar Acin masih tenggelam di bawah, Deh, Aeng, dan Ahok.
Acin terakhir memiliki lebih dari 200 agen di seluruh Sumatera dan memiliki jaringan di Malaysia, Singapura, dan Kamboja. Omzetnya mencapai Rp 2 miliar sampai Rp 3 miliar sehari. Dari bisnis haram itu, Acin sudah melebarkan sayap ke bidang usaha lain.
Hadiatmoko dalam suatu jumpa pers mengungkapkan, saat ini dia juga sudah mengantongi sejumlah nama terkait perjudian. Sampai di mana akhir kisah ini? Kita tunggu saja. (Syahnan Rangkuti)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang