JAKARTA - Ujian nasional ikut menghambat para guru mengembangkan pembelajaran kreatif. Pengembangan pembelajaran kreatif kalah menarik dibandingkan angka kelulusan ujian nasional yang dapat meningkatkan prestise sekolah.
Hal itu antara lain yang terungkap dari pembicaraan dengan beberapa guru kreatif, Rabu (3/12). Sebanyak 82 guru sekolah menengah atas (SMA) di Jabodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, dan Denpasar mendapat dana masing-masing Rp 5 juta dari Citi Success Fund (CSF) 2008. Program itu untuk memberikan dukungan finansial bagi guru SMA menciptakan pembelajaran yang kreatif, interaktif, dan menarik bagi siswa.
Tahun ini, mereka mendapat tantangan mengimplementasikan isu pemanasan global, layanan masyarakat, dan anti-bullying dalam kegiatan belajar-mengajar. Periode implementasi program berlangsung dari Desember 2008 hingga akhir Maret 2009.
Salah seorang penerima dana, Zepeherinus Senago, guru Matematika SMA St Bellarminus, Jakarta, mengatakan, pengayaan materi guna persiapan UN lebih menarik di mata sekolah ketimbang pengembangan pembelajaran kreatif. ”Itu sepertinya terjadi di berbagai sekolah dan tidak terlalu mengherankan. Angka kelulusan yang tinggi meningkatkan prestise sekolah,” ujarnya.
Rina Istianawati, guru SMAN 6 Tangerang, mengatakan, target kelulusan UN memberatkan guru mengajar secara kreatif. Persiapan pemantapan materi ujian semakin dini dengan jumlah mata pelajaran yang di-UN-kan kian banyak. Secara keseluruhan, guru juga masih harus menyelesaikan target kurikulum 17 mata pelajaran di SMA. Rina mendapatkan dana untuk proposalnya ”Satu Motor, Satu Pohon”, sebagai bentuk kampanye global warming. (INE)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang