JAKARTA, KAMIS — Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Aviliani memproyeksikan pertumbuhan ekomomi tahun 2009 mendatang hanya akan mencapai 4,9 persen. Proyeksi ini di atas perkiraan pesimistis pemerintah yang hanya mencapai 4,5 persen. "Kalau 6 persen rasa-rasanya berat sekali," kata Aviliani di sela-sela seminar Strategi Selamat dari Krisis Ekonomi Global di hotel Grand Hyatt, Jakarta, Kamis (4/12).
Tahun 2009 mendatang, pertumbuhan ekonomi didukung oleh sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan sektor informal. Diperkirakan, kedua sektor ini akan menyumbang hingga 50 persen terhadap Gross Domestic Product (GDP). "Ada sekitar Rp 2.400 triliun dari sektor tersebut atau seribu triliunnya dari APBN," ujarnya.
Aviliani menilai, kondisi ini sama seperti ketika krisis tahun 1998 lalu, saat sektor UMKM dan sektor informal mampu dukung GDP hingga 52 persen. Karena itu, Aviliani mengaku masih yakin akan potensi itu dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, Aviliani juga memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing terutama dollar AS bisa mencapai Rp 12.500 di tahun depan, atau bahkan lebih tinggi lagi.
Anjloknya nilai tukar rupiah juga akan membuat tingkat inflasi menjadi lebih tinggi lagi. Karena itu, pemerintah harus membuat crisis center untuk membantu restrukturisasi utang swasta dan pemerintah untuk menjaga nilai tukar rupiah. "Persoalannya apakah pemerintah berhasil mendapat pinjaman dan pemerintah juga harus membuat crisis center. Kalau tidak dilakukan, rupiah bisa mencapai Rp 12.500 di tahun depan," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang