Napaktilas Perang Uhud di Bukit Rumat

Kompas.com - 05/12/2008, 15:13 WIB

Oleh Edy M Ya'kub

Tahukah Anda bahwa "Jabal Uhud" (Bukit Uhud) yang selama ini didaki jemaah haji untuk ziarah selama di Madinah sambil mengenang perang uhud adalah "Jabal Rumat" (Bukit Pemanah)?

Selama musim haji, setiap hari ribuan jemaah haji terlihat berombongan menaiki bukit  di kawasan Jabal Uhud yang berjarak sekitar lima kilometer sebelah utara kota Madinah itu.

Di atas bukit itu mereka berdoa. "Itu bukan Jabal Uhud, tapi Jabal Rumat. Jabal Uhud adalah gunung setinggi 1.050 meter yang berhadapan dengan Jabal Rumat, tapi Jabal Rumat justru lokasi awal dari perang Uhud," kata mahasiswa asal Aceh, Ifan.

Mahasiswa yang bertugas mendampingi jemaah haji sektor III Daerah Kerja  Madinah itu mengatakan, perang uhud memang berawal dari puluhan pemanah yang diperintahkan Nabi Muhammad saw untuk menyerang kaum musyrikin dari Bukit Rumat.

"Puluhan pemanah akhirnya mampu menghalau kaum musyrikin pimpinan Khalid bin Walid yang saat itu belum masuk Islam, bahkan banyak tentara musyrikin yang gugur, tapi pasukan pimpinan Khalid bin Walid itu meninggalkan benda-benda berharga begitu saja," katanya.

Mengetahui harta benda berharga yang ditinggalkan itu, kata mahasiswa S-2 Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, itu, para pemanah turun untuk mengambil harta pampasan perang itu, walaupun mereka dilarang nabi untuk meninggalkan Rumat.

"Kaum muslimin mengira tentara musyrikin mundur, karena mereka meninggalkan lokasi, tapi ternyata mereka hanya mengitari Jabal Uhud untuk melakukan serangan balik, sehingga pasukan muslimin pun berguguran," katanya.

Salah satu tentara Islam yang gugur adalah paman nabi yang bernama Hamzah bin Abdul Mutholib. "Makam beliau di kuburan antara Jabal Rumat dan Jabal Uhud yang banyak dikunjungi jemaah haji untuk mengenang sejarah itu," katanya.

Konon, katanya, jenazah  Hamzah ditemukan setelah terjadi banjir di kawasan lembah Uhud dan air  yang menggenang ketika itu berbau harum. Ketika genangan air menyusut, jenazah "Uhud" banyak ditemukan.

"Itu konon, tapi yang jelas makam yang biasanya dilewati jemaah haji sebelum mendaki Jabal Rumat adalah makan Sayyidina Hamzah. Makam itu dipagari untuk dilihat jemaah haji dari jauh guna menapaktilasi Perang Uhud," katanya.

Menurut  jemaah haji Indonesia asal Bogor, Jabar, Prihatman (62), sepengethuannya, bukit yang selama ini didaki jamaah dari berbagai negara itulah yang bernama Jabal Uhud.

"Apalagi, di bawahnya ada makam para syuhada perang uhud, karena jabal yang kami naiki selama ini juga tidak tinggi, sedangkan kalau naik gunung yang tinggi itu (menunjuk Jabal Uhud), rasanya tidak mungkin. Kalau bisa juga lewat mana," katanya.

Namun, kata jemaah kelompok terbang (kloter) 17 JKS itu, dirinya sudah dapat merasakan betapa beratnya perjuangan para syuhada saat melawan kaum Quraisy. "Saya senang ke sini, apalagi udaranya cocok," kata warga asal Pasir Kuda, Ciomas, Bogor itu.

Masjid Qiblatain

Tahu pulakah Anda bahwa Masjid Qiblatain yang menjadi saksi perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis di Palestina ke Ka’bah di Mekah (Masjidilharam) itu bukan mesjid nabi, sehingga orang yang mengubah arah kiblat saat itu juga bukan nabi?

Bagi jemaah haji yang datang dari seluruh dunia, Masjid Qiblatain merupakan salah satu masjid yang harus dikunjungi, karena menjadi saksi perubahan arah kiblat untuk salat.

Jamaah berebut salat di mesjid itu.

Menurut penjaga mesjid, Abdullah Al-Aqil, para jemaah haji rata-rata tidak memahami bahwa Masjid Qiblatain hanyalah masjid sahabat nabi, yakni Bani Salamah.

"Saat turunnya perintah salat berpindah menghadap kiblat ke ka’bah, sahabat Bani Salamah sedang salat asar menghadap Baitul Maqdis dan sudah menjalankan dua rakaat," katanya.

Saat itu, datang sahabat nabi diutus Rasulullah untuk menerangkan telah turun wahyu salat menghadap ka’bah di Mekah, maka Bani Salamah yang menjadi imam langsung memutar arah salat secara berlawanan ke arah Masjidilharam.

"Mereka berebut salat di situ karena mereka mengira nabi salat di sini dulu. Itu tidak benar sebagaimana diriwayatkan dalam Hadits Imam Bukhori. Mesjid itu hanya milik sahabat nabi Bani Salamah," katanya.

Oleh karena itu, katanya, orang yang berpindah arah kiblat itu bukan nabi, karena memang bukan nabi yang salat di Masjid Qiblatain saat itu.

"Saya sudah berkali-kali menjelaskan, tapi karena orang yang datang silih berganti ya susah juga," katanya ketika ditemui tim Media Centre Haji (MCH) Madinah di sela-sela ziarah para jemaah haji dari berbagai belahan dunia.

Selain berebut salat di mihrab, para peziarah terlihat bergantian memasuki mesjid untuk salat tahiyyatul mesjid di Masjid Qiblatain. Tak sedikit dari mereka juga yang mengabadikan kunjungannya dengan memotret bangunan mesjid itu.

Sebelumnya, Masjid Qiblatain dinamakan Masjid Bani Salamah yang letaknya di tepi jalan menuju kampus Universitas Madinah di dekat Istana Raja ke jurusan Wadi Aqiq sekitar lima kilometer dari Masjid Nabawi.

Dengan turunnya wahyu memindahkan arah qiblat, maka mesjid itu akhirnya dinamakan Masjid Qiblatain yang berarti mesjid berqiblat dua yaitu ke arah Jerusalem Palestina dan ke arah Masjidilharam di Mekah.

Meski disebut Masjid Qiblatain, saat ini hanya ada satu mihrab menghadap ka’bah. Bekas mihrab yang menghadap Baitul Maqdis di Palestina hanya tinggal tulisan yang bagian bawahnya sekarang menjadi pintu masuk.

"Ibadah haji itu bukan hanya menyangkut fiqih (hukum Islam), melainkan fiqih sekaligus napaktilas sejarah. Namun banyak umat Islam yang minim pengetahuan perjalanan nabi," kata pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur, Wonocolo, Surabaya, KH Imam Ghozali Said MA.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau