Laporan wartawan Kompas Kornelis Kewa Ama
KUPANG, SABTU — Budidaya tanaman jatropha atau jarak pagar di Nusa Tenggara Timur gagal total. Padahal, pemerintah sudah mengalokasikan dana ratusan miliar rupiah pada 2006/2007 untuk program tersebut. Instansi teknis yang menangani proyek ini tidak memiliki kemampuan dan komitmen membangun masyarakat.
Anggota DPR Nusa Tenggara Timur (NTT) Marthenus Bili di Kupang, Sabtu (6/12), mengatakan, NTT memiliki lahan kering sampai 2 juta hektar yang dapat dimanfaatkan untuk budidaya jatropha. Pemerintah pusat sudah mengalokasikan dana miliaran rupiah pada 2006/2007 untuk program itu.
"Kuota budidaya jatropha untuk NTT sebanyak 600.000 hektar lebih pada 2006, tetapi realisasi hampir tidak ada. Hanya ada sedikit kegiatan di Kabupaten Belu dengan mengadakan anakan jatropha sekitar 500.000, tetapi terealisasi hanya 50.000. Itu pun tidak ditanami sehingga proyek itu benar-benar gagal," kata Bili.
Ketika masyarakat, DPRD, dan LSM mempersoalkan masalah itu, Kepala Dinas Perkebunan NTT bersama jajarannya mencari alasan untuk menunjukkan bahwa proyek itu sudah terealisasi 100 persen, tetapi tidak kelihatan. Pasalnya, jatropha selalu menggugurkan daun pada musim kemarau.
"Mereka pergi memotret jatropha yang tumbuh secara liar di hutan-hutan kemudian mengklaim bahwa proyek itu sukses. Jatropha memang tidak butuh penanganan serius sehingga dapat tumbuh di hutan," katanya.
Namun, dinas perkebunan selalu mengklaim proyek jatropha sukses di NTT sehingga Departemen Perindustrian melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTT membangun empat pabrik pengolahan jatropha di Kota dan Kabupaten Kupang.
Sebanyak tiga pabrik di Kabupaten Kupang berfungsi sebagai pemeras buah dan biji jarak menjadi minyak jarak dan satu unit pabrik di Bolok, Kota Kupang, sebagai pemroses minyak jarak menjadi minyak diesel atau minyak siap pakai.
Ternyata, keempat bangunan itu tidak dapat beroperasi karena tidak ada bahan baku biji jatropha. Sampai hari ini keempat pabrik itu tampak tak terawat dan menjadi tempat singgahan sapi dan kambing berteduh saat hujan dan panas.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang