Women Self Defense of Kushin Ryu (WSDK)

Kompas.com - 06/12/2008, 14:34 WIB

Tindak kekerasan terhadap perempuan belakangan ini semakin memprihatinkan. Beragam modus kejahatan, mulai dari penodongan, penjambretan, hingga pelecehan seksual tak jarang mengancam kaum Hawa.

Berdasarkan data yang dimiliki Komnas Perempuan, kasus tindakan kekerasan terhadap perempuan dari tahun ke tahun meningkat cukup mencolok.

Pada tahun 2001 setidaknya terjadi 3.169 kasus. Data tahun 2007 menunjukkan adanya 25.522 kasus kekerasan terhadap perempuan yang ditangani oleh 215 lembaga, termasuk institusi penegak hukum, rumah sakit, dan organisasi kemasyarakatan pengada layanan.

Berangkat dari fenomena itu, Sensei H Sofyan Hambally, penyandang Dan VI Karatedo Int, menggagas berdirinya bela diri untuk perempuan dengan nama Women Self Defense of Kushin Ryu (WSDK), yang merupakan bagian dari pertanggungjawaban sosial Kushin Ryu M Karatedo Indonesia (KKI) Dojo Kopo, Bandung, Jawa Barat.

WSDK yang didirikan pada 2007dan memiliki moto”Lembut bukan berarti lemah, dalam kelembutan tersimpan kekuatan”, itu merupakan wadah pelatihan bela diri praktis dan diharapkan efektif untuk membentengi diri kaum perempuan terhadap pelaku tindak kejahatan.

Menurut Eko Hendrawan, instruktur dari Kushin Ryu Dojo Kopo, jurus-jurus WSDK dikemas semudah mungkin sehingga memungkinkan para perempuan dari setiap strata usia bisa menerima pelatihan dengan sangat mudah. Teknik yang diberikan adalah teknik-teknik yang sangat praktis, tetapi mematikan. Kendati perempuan itu tidak memiliki dasar ilmu bela diri.”Salah satu contohnya kuku, tidak saja dijadikan sebagai aksesori bagi perempuan, tapi bila dimanfaatkan, kuku-kuku di jari-jari lentik itu bisa menjadi senjata pamungkas untuk melawan,” ujar Eko kepada Warta Kota, belum lama ini.

Dikatakannya, WSDK juga mengajarkan cara menyerang titik bagian tubuh tertentu yang tentunya bisa langsung melumpuhkan. Misalnya serangan di bawah dagu, jakun, ulu hati, dan alat vital. Bahkan, benda atau aksesori yang sering dibawa perempuan bisa dijadikan senjata untuk menyerang, misalnya kartu ATM, gantungan kunci, hingga ponsel.

”Jadi WSDK ingin memberikan pengetahuan terhadap perempuan seluas-luasnya mengenai bela diri praktis sebagai benteng pertahanan diri. Seperti moto WSDK, lembut bukan berarti lemah, dalam kelembutan tersimpan kekuatan,” kata penyandang sabuk hitam Dan III Karatedo itu.

WSDK telah meluluskan lebih dari 500 perempuan. Selain itu, bekerja sama dengan Komnas Perempuan menggelar workshop di Kota Bandung dan sekitarnya dengan menggelar pelatihan praktis. Bahkan, dalam memperingati Hari Ibu pada 22 Desember 2008, WSDK juga akan memberikan pelatihan praktis bagi ibu-ibu Dharma Wanita Provinsi Jawa Barat. ”Untuk wilayah Jakarta WSDK untuk saat ini masih sebatas pelatihan secara privat di sekolah-sekolah. Tapi kami juga tidak menutup kesempatan bagi khalayak umum, khususnya para perempuan yang ingin berlatih,” tandas Eko.

Peserta WSDK berasal dari berbagai kalangan, mulai dari ibu-ibu rumah tangga, PNS dan karyawati perusahaan swasta, hingga mahasiswi dan pelajar.

Ny Dorang (45), dosen perguruan tinggi swasta di Bandung, misalnya, berlatih bela diri WSDK karena sering terjadi tindak kejahatan dengan sasaran kaum perempuan. ”Jangan sampai terjadi ya. Tapi saya berlatih bela diri praktis ini sering geregetan melihat kejadian dari penjambretan pelecehan terhadap perempuan. Apalagi selama ini saya sering pulang malam, makanya saya merasa perlu berlatih untuk jaga-jaga diri. Setidaknya saya bisa melindungi diri saya sendiri” ujarnya kepada Warta Kota.

Sementara Dwi, seorang karyawati, pernah memiliki pengalaman buruk dengan pasangannya. ”Saat itu saya tidak bisa melawan,” katanya. Oleh karena itu, Dwi akhirnya memutuskan untuk mengikuti women self defense.

Hal senada diungkapkan seorang karyawati swasta lainnya, Joiverdia. Perempuan ini mengaku tak bisa berbuat apa-apa ketika penjahat merampas telepon genggam miliknya. Hal itu juga yang membuat Joiverdia bersemangat mendalami women self defense tersebut.

Kuku mencakar!

Berbicara seputar women self defense, artis Happy Salma (28) menyatakan bahwa dirinya sangat memerlukannya, mengingat kaum hawa rentan menjadi sasaran pelaku tindak  kriminalitas, pelecehan seksual hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). ”Kenapa aku bilang perlu, karena setidaknya bila kita pernah ikut bisa melindungi diri sendiri,” kata Happy.

Bintang Hantu Aborsi tersebut belum lama ini mengikuti pelatihan praktis yang digagas WSDK bekerja sama dengan Komnas Perempuan. ”Dalam bela diri ini, gerakan yang diajarkan tergolong sederhana. Anatomi tubuh kita ini bisa dijadikan senjata. Kuku bisa digunakan untuk mencakar, tangan untuk menampar,” katanya.  

Dengan perempuan berlatih bela diri, bukan berarti ingin menjadi jagoan. Namun, kata dara berzodiak Capricorn kelahiran Sukabumi ini, lebih pada cara untuk membentengi diri dari ulah-ulah negatif.
”Jadi sebagai perempuan tidak cuma bisa pasrah. Perempuan harus punya jati diri. Artinya kalau ada yang berbuat jahat harus dilawan. Minimal bisa menghindari,” kata Happy.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau