BATU, SABTU — Sekalipun rakyat Indonesia tidak mengenal Sri Sultan Hamengku Buwono X secara perorangan, tetapi masih tampak adanya hubungan antara rakyat dan HB X yang dalam kosmologi Jawa dikenal sebagai Raja Jawa. Pengusung nama HB X dalam pencalonan Presiden RI, Franky Sahilatua menyebut bahwa masih ada hubungan setrum antara HB X sebagai Raja Jawa dan rakyat Indonesia yang didatanginya di sejumlah daerah di Tanah Air.
Franky menyatakan hal itu di sela-sela mendampingi HB X di Dusun Srebet, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, Kota Batu, hari Sabtu (6/12). Bersama rombongan Sri Sultan hadir juga tokoh Muhammadiyah Dr Muslim Abdurrahman, yang malam sebelumnya menghadiri diskusi di rumah tokoh agama setempat Syaifudin Zuhri, atau dipanggil Gus Udin. Franky menyebut dirinya dan para pendukung pencapresan HB X sebagai kawan Sultan.
Mantan Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Khalid Muhammad yang juga hadir di tengah acara menjelaskan, dirinya bukan bagian dari tim pengusung pencapresan Sri Sultan. "Saya diundang hadir oleh tuan rumah, Gus Udin, sebagai pembicara kampanye lingkungan hidup," kata Khalid.
Franky menjelaskan kesan yang ditemuinya selama menemani HB X berkeliling ke sejumlah tempat di Jawa dan Luar Jawa, seusai acara deklarasi pencapresan HB X yang disebut pisowanan ageng di Yogyakarta, 28 Oktober 2008 lalu. Hanya sehari setelah acara pisowanan ageng HB X sudah mulai perjalanan memenuhi undangan-undangan. "Pada kesempatan itu saya mendapati dekatnya HB X di hati rakyat Indonesia, bahkan meski secara pribadi mereka tidak mengenal HB X," katanya.
Ia menegaskan semua kegiatan yang digelar warga masyarakat yang mendapat kunjungan HB X bukan permintaan HB X atau timnya. Seluruh kegiatan itu tak lain adalah kegiatan warga setempat. Di Masjid Srebet, lokasi acara berlangsung, tuan rumah Gus Udin menyelenggarakan acara selamatan desa, lalu disusul penyerahan kubah Masjid Sultan Agung kepada Sri Sultan.
Gus Udin yang ditemui terpisah menjelaskan, bangunan berupa kubah berdiameter sekitar 1 meter itu didapatnya saat dirinya bersama rombongan mengadakan acara pertolongan kepada korban gempa Yogyakarta. Di makam kompleks keraton, pihaknya menemukan kubah itu dari reruntuhan kubah, dan memutuskan membawa pulang bersama rombongan ke Malang .
"Belakangan kami merasa tidak memiliki kubah masjid itu dan ingin mengembalikan kepada pemiliknya yakni Sri Sultan Hamengku Buwono X yang hadir saat ini," ungkapnya.
Franky menjelaskan, dalam lapisan bawah sadar orang Jawa masih ada ketundukan dan ketaatan kepada Raja. Meski sudah berada di zaman modern, orang Jawa masih taat dalam khazanah kosmologi Jawa kepada Rajanya. Itu sebabnya sambutan amat antusias di berbagai tempat yang dikunjungi HB X.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang