Sri Sultan HB X Masih Nyetrum

Kompas.com - 06/12/2008, 18:47 WIB

 BATU, SABTU — Sekalipun rakyat Indonesia tidak mengenal Sri Sultan Hamengku Buwono X secara perorangan, tetapi masih tampak adanya hubungan antara rakyat dan HB X yang dalam kosmologi Jawa dikenal sebagai Raja Jawa. Pengusung nama HB X dalam pencalonan Presiden RI, Franky Sahilatua menyebut bahwa masih ada hubungan setrum antara HB X sebagai Raja Jawa dan rakyat Indonesia yang didatanginya di sejumlah daerah di Tanah Air.

Franky menyatakan hal itu di sela-sela mendampingi HB X di Dusun Srebet, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, Kota Batu, hari Sabtu (6/12). Bersama rombongan Sri Sultan hadir juga tokoh Muhammadiyah Dr Muslim Abdurrahman, yang malam sebelumnya menghadiri diskusi di rumah tokoh agama setempat Syaifudin Zuhri, atau dipanggil Gus Udin. Franky menyebut dirinya dan para pendukung pencapresan HB X sebagai kawan Sultan.

Mantan Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Khalid Muhammad yang juga hadir di tengah acara menjelaskan, dirinya bukan bagian dari tim pengusung pencapresan Sri Sultan. "Saya diundang hadir oleh tuan rumah, Gus Udin, sebagai pembicara kampanye lingkungan hidup," kata Khalid.

Franky menjelaskan kesan yang ditemuinya selama menemani HB X berkeliling ke sejumlah tempat di Jawa dan Luar Jawa, seusai acara deklarasi pencapresan HB X yang disebut pisowanan ageng di Yogyakarta, 28 Oktober 2008 lalu. Hanya sehari setelah acara pisowanan ageng HB X sudah mulai perjalanan memenuhi undangan-undangan. "Pada kesempatan itu saya mendapati dekatnya HB X di hati rakyat Indonesia, bahkan meski secara pribadi mereka tidak mengenal HB X," katanya.

Ia menegaskan semua kegiatan yang digelar warga masyarakat yang mendapat kunjungan HB X bukan permintaan HB X atau timnya. Seluruh kegiatan itu tak lain adalah kegiatan warga setempat. Di Masjid Srebet, lokasi acara berlangsung, tuan rumah Gus Udin menyelenggarakan acara selamatan desa, lalu disusul penyerahan kubah Masjid Sultan Agung kepada Sri Sultan.

Gus Udin yang ditemui terpisah menjelaskan, bangunan berupa kubah berdiameter sekitar 1 meter itu didapatnya saat dirinya bersama rombongan mengadakan acara pertolongan kepada korban gempa Yogyakarta. Di makam kompleks keraton, pihaknya menemukan kubah itu dari reruntuhan kubah, dan memutuskan membawa pulang bersama rombongan ke Malang .

"Belakangan kami merasa tidak memiliki kubah masjid itu dan ingin mengembalikan kepada pemiliknya yakni Sri Sultan Hamengku Buwono X yang hadir saat ini," ungkapnya.

Franky menjelaskan, dalam lapisan bawah sadar orang Jawa masih ada ketundukan dan ketaatan kepada Raja. Meski sudah berada di zaman modern, orang Jawa masih taat dalam khazanah kosmologi Jawa kepada Rajanya. Itu sebabnya sambutan amat antusias di berbagai tempat yang dikunjungi HB X.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau