KABUL, MINGGU - Pemimpin Taliban Mullah Mohammad Omar, Minggu (7/12) mendesak rakyat Afghanistan memboikot pemilihan umum yang dijadwalkan berlangsung tahun depan, dalam sebuah pesan yang disiarkan menjelang hari raya Idul Adha.
Tokoh gerilya bermata satu itu, yang diburu pasukan internasional dengan imbalan hadiah 25 juta dolar bagi penangkapannya, mengatakan, para pemimpin Afghanistan tidak memiliki wewenang untuk mengambil keputusan, dan ia menuduh Washington mengendalikan negara tersebut.
"Jangan biarkan diri kalian tertipu oleh pengumuman pemilu yang tidak jujur ini. Kenyataannya, pilihan dibuat di Washington," katanya dalam sebuah pesan email.
"Siapa pun yang terpilih, mereka tidak akan bisa membantu kalian, bahkan ketika Amerika menjatuhkan ribuan bom pada kalian," tambah Omar, dalam pernyataan yang secara jelas menunjuk pada keluhan Presiden Afghanistan Hamid Karzai yang berulang kali kepada Washington mengenai pembunuhan warga sipil dalam serangan-serangan pasukan internasional di negara tersebut.
PBB menyatakan, hampir 400 warga sipil tewas dalam serangan-serangan bom internasional yang ditujukan pada gerilyawan di Afghanistan antara Januari dan Agustus tahun ini, yang membuat marah pemerintah dan rakyat Afghanistan.
Omar (49) adalah teman pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden dan milisi Taliban berkuasa di Afghanistan antara 1996 dan 2001 sebelum digulingkan dari kekuasaan oleh invasi pimpinan AS.
Pemilu Afghanistan dijadwalkan berlangsung pada akhir 2009 dan akan menjadi ujian pertama bagi kelangsungan upaya tujuh tahun yang dilakukan koalisi pimpinan AS dan pasukan NATO untuk membangun sebuah pemerintah pusat yang terpilih secara demokratis di Afghanistan.
Puluhan ribu prajurit koalisi pimpinan AS dan pasukan ISAF pimpinan NATO berada di Afghanistan untuk membantu pemerintah Presiden Hamid Karzai memerangi Taliban dan gerilyawan Al-Qaeda sekutu mereka.
Tahun ini Taliban meningkatkan serangan-serangannya di Afghanistan. Hampir 1.500 warga sipil termasuk di antara lebih dari 4.000 orang yang tewas dalam konflik di Afghanistan sepanjang tahun ini.
Peningkatan jumlah korban akibat kekerasan yang dilakukan Taliban di Afghanistan telah membuat sejumlah negara berencana melakukan pengurangan atau penarikan pasukan yang tergabung dalam ISAF pimpinan NATO.
Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden, yang bertanggung jawab atas serangan-serangan di wilayah Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.
Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom-bom pinggir jalan dan serangan bunuh diri untuk melawan pemerintah Afghanistan dan pasukan asing yang ditempatkan di negara tersebut.
Dalam salah satu serangan paling berani, gerilyawan tersebut menggunakan penyerang-penyerang bom bunuh diri untuk menjebol penjara Kandahar pada pertengahan Juni, membuat lebih dari 1.000 tahanan yang separuh diantaranya militan berhasil kabur.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang