Pelayanan Katering di Mina Kacau

Kompas.com - 08/12/2008, 20:21 WIB

MINA, SENIN - Pelayanan katering untuk para jamaah haji di Mina, Arab Saudi, Senin (8/12) siang selepas shalat Dzuhur pukul 12.00 waktu setempat (16.00 WIB) menjadi kacau, jamaah haji merasa di-"ping-pong".

Suasana kacau dan semrawut itu, membuat ratusan jamaah haji yang dalam kondisi cuaca panas kian tersiksa, karena tidak adanya tanda atau atribut khusus dimana masing-masing Kloter seharusnya mengambil jatah makan siang itu. Demikian dilaporkan wartawan Antara dari Mina.

Kondisi itu terpantau di Maktab 68 di perkemahan di Mina, dimana terdapat tujuh Kloter yang berjumlah sekira 2.800-an jamaah haji. Para jamaah haji yang tergabung di maktab 68  terdiri atas tujuh Kloter dari Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Sumatra Barat, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.

Suasana kesal tak dapat ditutupi oleh sebagian besar Calhaj, yang pada Senin Subuh hingga pagi, baru saja berjalan kaki sejauh 8 Km pulang-pergi dari kemah di Mina ke lokasi pelemparan jumroh yang masih berada di wilayah Mina.

Bahkan sebelum ke Mina, sejak Minggu (7/12) malam hingga Senin dini hari, ribuan Calhaj itu juga harus menuggu bus yang saat "mabit" (bermalam) di Muzdalifah, dan tidak tidur semalaman, setelah hingga sore haru melakukan wukuf di Padang Arafah.

"Kata pemerintah persoalan katering sudah ’clear’ sejak penyelenggaraan haji tahun lalu, tapi fakta hari ini menunjukkan hal sebaliknya, padahal pengurus maktab kan sudah pasti dapat penghasilan besar dari katering haji ini," kata Ir Helmi Alwaini, jamaah asal
Kloter 16 Kabupaten Bogor.

Ia selepas shalat Dzuhur antre di sebuah meja layanan dekat tenda, yang pada pagi hari masih lancar, dan  kemungkinan karena Calhaj yang datang masih sedikit. "Tapi pada siang ini, saat perut terasa lapar Calhaj malah di-'ping-pong’ kesana kemari, karena khusus untuk Kloter tertentu, eh...di meja lain ada Kloter  lain masuk tidak sesuai nomor Kloternya tidak diapa-apakan, dan akibatnya makanan cepat habis," kata pengusaha
yang "terusir" dari tiga meja pelayanan katering karena tiadanya pengaturan nomor Kloter yang jelas itu.

Helmi mengaku heran bahwa masalah katering yang disebut sudah dapat diselesaikan itu kini muncul lagi, di saat jamaah haji pada musim haji tahun 2008 ini baru saja "terzalimi" oleh masalah transportasi yang membuat ribuan Calhaj terlantar di Masjidil Haram.

Menurut Narief, salah satu ketua regu dari Jabar, mestinya maktab dapat mengantisipasi  sejak awal masalah seperti itu, apalagi antrean yang "mengular" membuat Calhaj berusia lanjut dan perempuan kepanasan dalam cuaca yang terik. "Lagi-lagi akibat keteledoran pengaturan, dari maktab, Callhaj Indonesia jadi korban terus," katanya.

Akibat kondisi itu, sejumlah jamaah haji menumpahkan kekesalan kepada ketua kloter, dan kemudian baru ditempelkan tanda bahwa Kloter tertentu mengambil di meja tertentu, namun banyak Calhaj yang sudah kesal sehingga tidak mau mengambil jatah makanannya.

Namun saat Antara mengecek ke lokasi meja pelayanan katering untuk Kloter 16, ternyata tidak ada satupun tertera informasi yang ditempelkan, tetapi hanya beredar dari mulut ke mulut. Selain itu, ternyata layanan juga masih amburadul karena setelah dapat informasi makanan tersedia, ternyata ada kasus yang nasinya ada namun lauknya habis dan sebaliknya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau