BRUSSEL, SENIN - Kapal-kapal perang Uni Eropa (EU) kini akan diizinkan untuk menembak perompak yang berusaha membajak kapal-kapal komersial di lepas pantai Somalia.
Ketua kebijakan luar negeri EU, Javier Solana, Senin (8/12) menyampaikan pernyataan itu setelah para menteri luar negeri EU di Brussel secara resmi mengesahkan misi blok "Atalanta" dan dimulainya misi tersebut pada hari Selasa.
Solana menambahkan, peraturan mengenai perjanjian misi ini sangat ketat. Ia menegaskan pula, akan menempuh langkah apapun yang diperlukan untuk melaksanakan mandat tersebut.
Ditanya apakah aturan itu mencakup kemungkinan menembak perompak yang kedapatan sedang melakukan aksinya, Solana mengatakan : "Diharapkan, hal ini tidak perlu dilakukan".
Sebuah kapal perang Denmark yang beroperasi di Teluk Aden pekan lalu menolong tujuh orang yang diduga perompak. Kapal perang itu menyelamatkan mereka setelah kapal cepat yang ditumpangi perompak mengapung karena kerusakan mesin.
Kapal Denmark itu tidak menangkap kelompok itu, tetapi menyita sejumlah senjata dari tangan mereka. Tentara Denmark tidak bisa menangkap para tersangka itu karena mereka tidak mengetahui secara pasti niat mereka. Orang-orang itu akhirnya diserahkan kepada pihak berwenang Yaman.
Kasus itu membantu menyoroti kesulitan aturan hukum yang terkait dengan penumpasan perompak, yang seringkali beroperasi di perairan internasional. Misi EU itu, yang mencakup enam kapal perang dan tiga pesawat pengintai laut, akan ditugasi mengawal kapal dagang dan kapal Badan Pangan Dunia yang mengirim bantuan makanan ke Afrika.
Perairan di lepas pantai Somalia merupakan tempat paling rawan pembajakan di dunia, dan Biro Maritim Internasional melaporkan 24 serangan di kawasan itu antara April dan Juni tahun ini. Menurut Biro Maritim Internasional, sedikitnya 83 kapal diserang perompak di kawasan itu sejak Januari, 33 di antaranya dibajak. Dari jumlah itu, 12 kapal dan lebih dari 200 orang awak masih ditahan oleh perompak.
EU telah memulai operasi keamanan di lepas pantai Somalia, sebelah utara Kenya, untuk memerangi aksi perompakan yang meningkat dan melindungi kapal-kapal yang mengangkut bantuan kemanusiaan. Itu merupakan misi laut pertama EU. NATO juga telah mengirim sejumlah kapal untuk mengawal kapal-kapal Badan Pangan Dunia PBB yang mengangkut bantuan makanan ke pelabuhan-pelabuhan Somalia.
Perompak, yang dikepung oleh kapal-kapal perang internasional, telah mengancam akan meledakkan kapal Ukraina yang dibajak jika mereka tidak menerima uang tebusan yang dituntut sebesar 20 juta dolar.
Namun, batas waktu yang mereka tetapkan telah berlalu tanpa insiden. Dewan Keamanan PBB telah menyetujui operasi penyerbuan di wilayah perairan Somalia untuk memerangi perompakan, namun kapal-kapal perang yang berpatroli di daerah itu tidak berbuat banyak, menurut Menteri Perikananan Puntland Ahmed Saed Ali Nur.
Pemerintah transisi lemah Somalia, yang saat ini menghadapi pemberontakan berdarah, tidak mampu menghentikan aksi perompak yang membajak kapal-kapal dan menuntut uang tebusan bagi pembebasan kapal-kapal itu dan awak mereka.
Perompak, yang bersenjatakan granat roket dan senapan otomatis, menggunakan kapal-kapal cepat untuk memburu sasaran mereka. Somalia dilanda kekerasan sejak penggulingan diktator Mohamed Siad Barre pada 1991.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang