BANTUL, SELASA — Dalam penyembelihan hewan kurban, yang berlangsung serentak kemarin, ditemukan 2 ekor sapi yang menderita cacing hati dan 5 ekor kambing dengan kondisi paru-paru rusak. Oleh petugas, daging tersebut dinyatakan tidak layak konsumsi sehingga harus dimusnahkan.
Tidak semua bagian dimusnahkan. Hanya bagian hati dan daerah sekitarnya untuk sapi, dan bagian paru-paru dan sekitarnya untuk kambing. Bagian lainnya, boleh dikonsumsi sepanjang tidak ditemukan indikasi penyakit lain, kata Kepala Dinas Peternakan Kelautan dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bantul, Mursumartinah, Selasa (9/12).
Menurutnya, kerusakan pada hati dan paru-paru pada hewan kurban baru bisa dideteksi setelah hewan tersebut dipotong. Pada kondisi hidup, penyakit cacing hati dan paru-paru sangat sulit diidentifikasi. Tahun lalu tercatat 41 ekor hewan kurban terkena cacing hati. Untuk tahun ini, Dinas PKP belum bisa memastikan jumlahnya karena baru sebagian data yang masuk ke instansinya.
Dari 75 desa, baru 37 desa yang melaporkan kegiatan pemotongan hewan untuk Idul Adha kemarin. Jumlah hewan kurban sapi mencapai 936 ekor, kambing 1.593 ekor, dan domba 3.121 ekor. Tahun lalu jumlah hewan kurban tercatat 2.627 ekor sapi dan 12.500 ekor kambing dan domba.
"Lambannya laporan pemotongan hewan kurban karena jumlah tenaga pemantau yang diterjunkan sangat minim yakni 150 orang. Jadi masing-masing desa hanya mendapatkan dua orang pemantau, padahal jumlah titik pemotongan hewan sangat banyak," katanya.
Tahun depan rencananya Dinas PKP akan melibatkan dokter hewan mandiri sebagai tenaga pemantau. Jumlahnya berkisar 50 orang. Sayangnya keberadaan mereka tidak tersebar merata. Sebagian besar terpusat di daerah perkotaan Bantul.
Menurut drh Wisnu, staf Dinas PKP yang juga membuka praktik dokter mandiri masih ada beberapa daerah pinggiran yang tidak memiliki dokter hewan seperti di Kecamatan Dlingo. Problemnya seperti pada dokter umum karena jumlah pasien di pinggiran sangat sedikit karena terbatasnya kemampuan ekonomi, katanya.
Wisnu menambahkan, pelanggan praktik dokter hewan selama ini hanya didominasi kalangan peternak yang ternaknya memiliki nilai ekonomis tinggi seperti sapi, dan kalangan pecinta hewan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang