SURABAYA, SELASA- Pascasemburan lumpur Lapindo dua tahun lalu, Pelabuhan Tanjung Wangi di Banyuwangi dikembangkan menjadi pelabuhan alternatif untuk mengantisipasi terhambatnya arus transportasi ke Surabaya. Namun, hingga kini aktivitas ekspor impor masih terpusat di Pelabuhan Tanjung Perak dan kemacetan masih menjadi persoalan utama di jalur selatan Surabaya.
"Dari segi kesiapan infrastruktur, Pelabuhan Tanjung Wangi sudah siap. Namun yang menjadi persoalan adalah aktivitas bongkar muat masih sepi karena pasar belum terbentuk," kata Kepala Humas PT (Persero) Pelindo III Iwan Sabatini, Selasa (9/12) di Surabaya.
Menurut Iwan, pengalihan transportasi pelayaran ke Pelabuhan Tanjung Wangi kurang didukung pembangunan industri di wilayah tersebut, seperti daerah Banyuwangi dan Jember. Dengan demikian, para pelaku ekspor impor tertarik untuk memanfaatkan pelabuhan.
"Solusi yang diambil bukan sekedar memindahkan jalur pelayaran saja, tetapi pemerintah harus mengembangkan industri di sekitar pelabuhan," ujarnya.
Di Pelabuhan Tanjung Perak, kedatangan kapal sudah terjadwal satu bulan sebelumnya. Karena itu, rata-rata angkutan barang ke Pelabuhan Tanjung Perak masih tinggi sekitar 100.000 TEUs per bulan.
Kerugian tinggi
Terputusnya Jalan Tol Porong Sidoarjo kilometer 37 hingga 42 sejak tahun 2006 lalu menyebabkan kepadatan dan kemacetan lalu lintas di seputar Jalan Raya Porong. Total kerugian akibat terhambatnya distribusi barang dan jasa diperkirakan lebih dari Rp 5,1 miliar per hari.
Institute for Strategic Economics and Finance (INSEF) mencatat, kerugian tersebut dirasakan berbaga i pihak, antara lain perusahaan angkutan umum serta Jasa Marga sebagai pengelola Tol Porong Sidoarjo. Kemacetan di Jalan Raya Porong menyebabkan penurunan aktivitas armada perusahaan otobus hingga 52,5 persen atau 95 unit per hari. Sedangkan PT Jasa Marga sendiri harus kehilangan pendapatan Rp 60 juta per hari menyusul ditutupnya ruas Tol Porong Gempol, Sidoarjo.
Sementara itu, terhambatnya arus transportasi pascasemburan lumpur Lapindo juga turut menyumbang penurunan pendapatan domestik regional brutto (PDRB)Jawa Timur. Penyusutan pendapatan Jawa Timur dalam dua tahun terakhir mencapai Rp 33 triliun.
"Dalam dua tahun terakhir, PDRB Jawa Timur berada di bawah rata-rata nasional. Untuk meningkatkan gairah ekonomi, pemerintah Provinsi Jawa Timur menyiapkan pelabuhan-pelabuhan di wilayah timur yang diharapkan mampu menggantikan Pelabuhan Tanjung Perak," ujar Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia Jawa Timur Chaerul Djaelani.
Berdasarkan rencana, Pelabuhan Tanjung Wangi diharapkan menjadi pelabuhan feeder atau pengumpan ke Pelabuhan Singapura dan Kuala Lumpur, Malaysia. "Tahun depan, pengembangan pelabuhan juga akan dilakukan di Probolinggo dan Pasuruan," tambah Kepala Dinas Perhubungan Jawa Timur Hary Soegiri.
Menurut Hary, solusi pengembangan pelabuhan diambil karena rencana relokasi jalan tol Porong Sidoarjo terkendala masalah pembebasan tanah. Warga meminta hingga ganti rugi sama dengan korban lumpur Lapindo yaitu Rp 1 juta per meter persegi, padahal angg aran yang disediakan hanya berkisar Rp 85.000 hingga Rp 150.000 per meter persegi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang