JAKARTA, SELASA- Beberapa negara di antaranya Jepang menolak usulan pemerintah Indonesia untuk mendapatkan pinjaman luar negeri yang bersifat jangka panjang dan multiguna di luar pinjaman program yang telah diperoleh, dengan cara penukaran mata uang yang digunakan dalam pinjaman (currency switching).
Alasannya, penukaran dari mata uang Yen menjadi dollar AS akan bersifat fluktuatif, sehingga merugikan Jepang.
Demikian disampaikan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta, seusai melaporkan hasil Konferensi Pembiyaan bagi Pembangunan di Doha kepada Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, Selasa (9/12) di Istana Wapres, Jakarta.
"Pemerintah Jepang lebih memilih untuk berunding dengan penetapan syarat yang lebih mudah (term and conditions), khususnya pemenuhan pinjaman sangat lunak (official development assistance/ODA) sebesar 0,7 persen dari produk domestik bruto (PPB) Jepang," ujar Paskah.
Menurut Paskah, kalau untuk realisasi peralihan utang (debt swap) dengan persyaratan yang lebih lunak, Jepang juga tidak bisa melakukannya. Namun, Jepang akan terus berkomitmen membantu Indonesia dengan pinjaman lunaknya. "Saat ini pinjaman Jepang mencapai 40 persen lebih dari total pinjaman luar negeri Indonesia," tambah Paskah.
Paskah menyatakan, dalam diskusi tentang pinjaman luar negeri di Doha, pemerintah Indonesia menyatakan beberapa tahun terakhir ini jumlah total utang luar negeri negara berkembang justru mengalami kenaikan.
Banyak kasus di mana negera berkembang dipaksa untuk melakukan pembayaran utang jauh melampaui pinjaman awalnya. "Indonesia mengharapkan adanya dukungan dari negara kreditor dan lembaga keuangan multilateral guna mendapatkan pinjaman luar negeri yang bersifat jangka panjang dan multiguna di luar pinjaman program yang telah diperoleh," jelas Paskah.
Terkait dengan itu, lanjut Paskah, diperlukan perundingan dengan negara kreditor dan lembaga keuangan internasional melalui cara penukaran mata uang pinjaman, penetapan persyaratan pinjaman yang lebih mudah, realisasi debt swap dengan persyaratan yang lunak, peningkatan hibah tanpa syarat dan keleluasaan untuk memilih sendiri barang serta jasa terkait proyek yang dibiayai pinjaman luar negeri dengan cara efisien.
Dalam catatan Kompas, berdasarkan data September 2008, komposisi utang dalam dollar AS mencapai 29 persen dari total pinjaman luar negeri. Adapun utang dalam yen sebesar 44 persen dan euro sebanyak 16 persen terhadap total pinjaman luar negeri.
Sementara, berdasarkan data Depkeu per 31 Oktober 2008, nilai outstanding pinjaman luar negeri mencapai 62,103 miliar dollar AS. Maka, utang dalam yen menduduki komposisi terbesar, yakni sekitar 27,325 miliar dollar AS. Besarnya pembayaran utang dalam yen membuat pembayaran pinjaman pemerintah melonjak akibat penguatan mata uang Jepang ini terhadap dollar AS.
Setiap penguatan yen terhadap dollar AS sebesar 1 persen akan memengaruhi peningkatan pinjaman senilai 0,4 persen ekuivalen dollar AS. Outstanding pinjaman membengkak karena setiap utang yen, dibayar dengan dollar AS.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang