Pinjaman Baru, Jepang Tolak Penukaran Mata Uang Yen

Kompas.com - 09/12/2008, 21:50 WIB

JAKARTA, SELASA- Beberapa negara di antaranya Jepang menolak usulan pemerintah Indonesia untuk mendapatkan pinjaman luar negeri yang bersifat jangka panjang dan multiguna di luar pinjaman program yang telah diperoleh, dengan cara penukaran mata uang yang digunakan dalam pinjaman (currency switching).

Alasannya, penukaran dari mata uang Yen menjadi dollar AS akan bersifat fluktuatif, sehingga merugikan Jepang.

Demikian disampaikan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta, seusai melaporkan hasil Konferensi Pembiyaan bagi Pembangunan di Doha kepada Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, Selasa (9/12) di Istana Wapres, Jakarta.    

"Pemerintah Jepang lebih memilih untuk berunding dengan penetapan syarat yang lebih mudah (term and conditions), khususnya pemenuhan pinjaman sangat lunak (official development assistance/ODA) sebesar 0,7 persen dari produk domestik bruto (PPB) Jepang," ujar Paskah.

Menurut Paskah, kalau untuk realisasi peralihan utang (debt swap) dengan persyaratan yang lebih lunak, Jepang juga tidak bisa melakukannya. Namun, Jepang akan terus berkomitmen membantu Indonesia dengan pinjaman lunaknya. "Saat ini pinjaman Jepang mencapai 40 persen lebih dari total pinjaman luar negeri Indonesia," tambah Paskah.

Paskah menyatakan, dalam diskusi tentang pinjaman luar negeri di Doha, pemerintah Indonesia menyatakan beberapa tahun terakhir ini jumlah total utang luar negeri negara berkembang justru mengalami kenaikan.

Banyak kasus di mana negera berkembang dipaksa untuk melakukan pembayaran utang jauh melampaui pinjaman awalnya. "Indonesia mengharapkan adanya dukungan dari negara kreditor dan lembaga keuangan multilateral guna mendapatkan pinjaman luar negeri yang bersifat jangka panjang dan multiguna di luar pinjaman program yang telah diperoleh," jelas Paskah.

Terkait dengan itu, lanjut Paskah, diperlukan perundingan dengan negara kreditor dan lembaga keuangan internasional melalui cara penukaran mata uang pinjaman, penetapan persyaratan pinjaman yang lebih mudah, realisasi debt swap dengan persyaratan yang lunak, peningkatan hibah tanpa syarat dan keleluasaan untuk memilih sendiri barang serta jasa terkait proyek yang dibiayai pinjaman luar negeri dengan cara efisien.

Dalam catatan Kompas, berdasarkan data September 2008, komposisi utang dalam dollar AS mencapai 29 persen dari total pinjaman luar negeri. Adapun utang dalam yen sebesar 44 persen dan euro sebanyak 16 persen terhadap total pinjaman luar negeri.

Sementara, berdasarkan data Depkeu per 31 Oktober 2008, nilai outstanding pinjaman luar negeri mencapai 62,103 miliar dollar AS. Maka, utang dalam yen menduduki komposisi terbesar, yakni sekitar 27,325 miliar dollar AS. Besarnya pembayaran utang dalam yen membuat pembayaran pinjaman pemerintah melonjak akibat penguatan mata uang Jepang ini terhadap dollar AS.

Setiap penguatan yen terhadap dollar AS sebesar 1 persen akan memengaruhi peningkatan pinjaman senilai 0,4 persen ekuivalen dollar AS. Outstanding pinjaman membengkak karena setiap utang yen, dibayar dengan dollar AS.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau