Oknum TNI Ancam Bunuh Bulyan Royan

Kompas.com - 10/12/2008, 13:24 WIB

JAKARTA, RABU — Terdakwa kasus dugaan korupsi terkait pengadaan 20 kapal patroli di Direktorat Jendral Perhubungan Laut Departemen Perhubungan, Bulyan Royan, mengaku mendapat intimidasi beberapa hari lalu. Intimidasi ini dilakukan oleh seorang oknum perwira menengah TNI.

Bulyan dan keluarganya diancam akan dibunuh oleh oknum tersebut. Ini diungkapkannya saat mengajukan interupsi kepada majelis hakim seusai putusan sela dibacakan.

"Beberapa hari lalu, saya mendapat intimidasi. Mohon diperhatikan keamanan saya dan keluarga, Yang Mulia. Intimidasi dilakukan oleh seorang oknum TNI berpangkat perwira menengah. Mohon dapat perhatian agar persidangan ini berjalan baik," ujar anggota Komisi V DPR RI itu di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu (10/12).

Menurut dia, oknum tersebut langsung datang. Namun, Bulyan tidak mau menyebutkan oknum tersebut menemuinya atau keluarganya. Hal tersebut mengejutkan seluruh pengunjung dan peserta Pengadilan Tipikor hari ini, termasuk pengacaranya, Sapriyanto Refa.

Menurut dia, kliennya belum menceritakan hal tersebut. "Ini saya baru mau tanya," kata Sapriyanto sambil berlalu ke ruang tunggu saksi di Pengadilan Tipikor.

Atas pengakuan ini, majelis hakim kemudian meminta jaksa penuntut umum (JPU) untuk menindaklanjuti hal tersebut. Saat ini, JPU sedang bertanya kepada Bulyan di ruang tunggu saksi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau