Elpiji Langka Warga Beralih ke Kayu Bakar

Kompas.com - 10/12/2008, 18:43 WIB

SEMARANG, RABU - Tersendatnya pasokan ke agen dan pengecer dari Pertamina, membuat stok elpiji di Kota Semarang, Jawa Tengah, langka selama tiga pekan terakhir. Akibatnya, sebagian warga terpaksa beralih menggunakan kayu bakar untuk keperluan memasak karena sulit memperoleh elpiji.

Sunardiyono (47), pemilik warung makan di Jalan Kaligarang, Kelurahan Gajah Mungkur, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, mengaku, sudah dua hari terakhir terpaksa memasak menggunakan kayu bakar karena sudah tidak lagi memiliki persediaan elpiji ukuran tiga kilogram.

"Mau ganti pakai minyak tanah, kompornya sudah tidak ada. Padahal, tiga tabung elpiji sudah kosong semua. Makanya, saya menggunakan kayu bakar dulu untuk sementara," ujar Sunardiyono, Rabu (10/12).

Akibatnya, omzet warung makannya turun dari Rp 152.500 menjadi Rp 74.000 per hari karena masakan yang dibuat istrinya berkurang. "Kalau bahan bakarnya menggunakan elpiji, isitri saya bisa memasak 125 gorengan dan 30 nasi bungkus per hari. Sedangkan, jika menggunakan kayu bakar hanya bisa memasak 70 gorengan dan 20 nasi bungkus," ucapnya.

Selain sulit diperoleh, warga juga harus membeli elpiji dengan harga lebih tinggi dari sebelumnya. Par man (29), penjual mi ayam di Jalan Pusponjolo, mengaku, harus membeli elpiji ukuran tiga kilogram seharga Rp 16.000 per tabung dari sebelumnya Rp 13.000 per tabung.

Mustofa (43), pengecer elpiji tiga kilogram di Kelurahan Bongsari, Semarang Barat, mengaku , belum memiliki stok elpiji sejak empat hari ini. Padahal, ia sudah menitipkan 15 tabung kosong elpiji tiga kilogram di agen sejak Sabtu lalu, namun hingga kini tabung tersebut belum juga diisi ulang.

Selain pengecer dan konsumen, agen elpiji juga mengeluhkan kelangkaan stok tersebut. Satriyo Wicaksono, pengelola pangkalan elpiji PT Wahyu Jaya di Jalan Dr Suratmo Raya, mengeluhkan, mesti antre selama empat hari di SPPBE Tambak Aji, Semarang, untuk mendapatkan pasokan elpiji sebanyak 1.200 tabung akibat ke langkaan dalam tiga minggu terakhir. Padahal, biasanya ia memperoleh pasokan tersebut dalam sehari.

Terkait hal itu, Satriyo mengaku, menaikkan harga jual elpiji ukuran tiga kilogram kepada konsumen dari Rp 12.150 per tabung menjadi Rp 12.300 per tabung karena biaya operasionalnya bertambah akibat harus antre selama empat hari. "Selain itu, pembelian juga dibatasi maksimal lima tabung agar pengecer lain bisa turut memperoleh," katanya.

Assistant Manager External Relation PT Pertamina Pemasaran Bahan Bakar Minyak Retail Region IV Jateng dan DI Yogyakarta Heppy Wulansari mengakui, tersendatnya pasokan elpiji ke Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, diakibatkan lalu lintas kapal dari terminal elpiji Surabaya dan Eretan, Cirebon terganggu cuaca. Kondisi tersebut sudah berlangsung sejak minggu terakhir November hingga awal Desember ini.

Persediaan elpiji untuk Jateng dan DIY dipasok oleh Kilang Cilacap, terminal elpiji Surabaya, dan Eretan menyusul adanya perbaikan di Kilang Balongan, Indramayu pada Oktober lalu.

Menurut Heppy, lalu lintas kapal mulai lancar terhitung mulai Rabu ini dan diharapkan dapat segera mengatasi kelangkaan elpiji di pasaran.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau