Pakistan Tangkap Pelaku Teror di Mumbai

Kompas.com - 10/12/2008, 21:41 WIB

MULTAN, RABU — Pakistan telah membenarkan bahwa pihaknya menangkap kedua orang pelaku serangan teroris di Mumbai. Penangkapan itu sekaligus merupakan pemenuhan janji Perdana Menteri Pakistan Yousuf Raza Gilani untuk mengejar para pelaku serangan teroris di India itu.

Pengumuman atas penangkapan Zarrar Shah, menyusul penangkapan Zaki ur Rehman Lakhvi pada hari Minggu lalu itu, bisa mengakhiri tekanan keras Amerika Serikat dan India menyusul terjadinya serangan teroris di kota bisnis India yang menewaskan 171 orang itu.

Akan tetapi, semua itu masih tergantung pada sikap pemerintahan muda Pakistan untuk menekan kelompok militan negeri itu yang diyakini disokong agen keamanan.

Di masa lalu, Pakistan juga sudah menangkap sejumlah pimpinan kelompok militan, tetapi kemudian melepaskannya kembali. Dengan demikian, muncul kecaman dari banyak negara bahwa Pakistan memang tidak serius memerangi kelompok ekstremis.

Pakistan selama ini menolak tuduhan India bahwa serangan teroris di Mumbai melibatkan kelompok militan Pakistan. Bahkan, India menyebut bahwa semua teroris di Mumbai adalah warga negara Pakistan. Akan tetapi, Pakistan kemudian berjanji akan membantu menangkap pelaku jika mereka memang berada di wilayah Pakistan.

Sejauh ini, PM Yousuf Raza Gilani tidak memberikan informasi detail mengenai penangkapan Zarrar Shah. Ia hanya menyebut bahwa Shah dan Lakhvi ditangkap di pedesaan Pakistan dan saat ini sedang dimintai keterangan.

Shah dan Lakhvi diduga kuat sebagai anggota Lashkar-e-Taiba, yakni sebuah kelompok yang senantiasa dipersalahkan dalam berbagai serangan di wilayah India.

Sementara itu, pihak kepolisian India hari Rabu ini menyatakan akan memeriksa seorang anggota kelompok militan India yang juga diduga mempunyai kaitan dengan Lashkar yang melakukan serangan di Mumbai. Menurut polisi, Sabauddin Ahmmad yang ditangkap pada bulan Februari lalu telah menyebut Mumbai sebagai target serangan sejak satu tahun sebelum serangan bulan lalu.

Amitabh Yash, Direktur Satuan Khusus Kepolisian Uttar Pradesh menyatakan, Ahmad mengelola sejumlah rumah di Nepal untuk menampung laskar Pakistan sebelum masuk ke India. Dikatakan Yash, kebijakan tanpa paspor bagi warga Nepal untuk keluar masuk India merupakan celah yang bisa dimanfaatkan kelompok itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau