BANYUASIN — Buaya muara yang dikenal dengan sebutan si raja air kembali memakan korban. Awal tahun ini buaya yang diperkirakan panjangnya 7 meter mengamuk di Sungai Mukut, kali ini buaya sepanjang 4 meter mengamuk di Sungai Lalan, Pulau Rimau.
Yang jadi korban adalah Rusli (40), warga Karang Agung Ilir, Kecamatan Pulau Rimau, Banyuasin. Beruntung buaya tersebut tidak sampai merenggut nyawanya, tetapi akibat gigitan hewan melata itu, Rusli yang sehari-hari berprofesi sebagai nelayan harus mengalami luka di sekujur tubuhnya.
Informasi yang berhasil dihimpun, peristiwa itu terjadi pada Senin (8/12) sekitar pukul 18.30, saat Rusli sedang menjala ikan di perairan Sungai Lalan Ilir bersama tiga orang temannya.
Namun, saat hendak mengangkat jala, tiba-tiba buaya sepanjang 4 meter yang tak diketahui dari mana datangnya langsung menyambarnya. Buaya pun berhasil menggigit kaki Rusli dan langsung menariknya ke dalam air.
Tiga teman Rusli pun berusaha menolong dengan menarik Rusli dari mulut buaya. Terjadilah tarik menarik antara tiga orang itu yang ingin menyelamatkan Rusli dan buaya. Akhirnya tiga orang teman Rusli berhasil menyelamatkannya meskipun tidak urung akibat gigitan buaya, paha kanannya mengalami luka robek
sepanjang 40 cm dan harus mendapat beberapa puluh jahitan.
M Zuber, salah seorang warga, mengatakan, Rusli waktu itu sedang menjala ikan di Sungai Lalan Ilir, tetapi pada saat akan mengangkat jalan tiba-tiba muncul seekor buaya dan langsung menerkam. "Kaki korban sempat digigit dan ditarik buaya, tetapi
Rusli dengan sekuat tenaga berontak dari gigitan buaya dan akhirnya lepas setelah dibantu temannya," katanya, Selasa (9/12).
Pada peristiwa itu, sempat terjadi tarik-tarikan oleh para nelayan untuk menyelamatkan Rusli dari cabikan raja air tersebut. "Berkat kegigihan dan pertolongan Allah SWT, akhirnya Rusli bisa lepas dari maut meskipun Rusli mengalami luka parah di paha kanannya," imbuhnya.
Zuber mengatakan, bukan hanya Rusli yang menjadi korban, sepanjang November ini saja buaya muara ini telah menewaskan dua warga yang berada di Karang Agung Ulu. Zuber menegaskan, korban keganasan buaya bukan tidak mungkin bertambah jika ada tindakan tegas dari pemerintah.
"Kalau lama-lama warga kami bisa punah digigit buaya, bagaimana lagi mereka bisa mencari penghidupan kalau sungai tidak aman lagi. Tidak bisa mandi dan mencari ikan lagi," katanya.
Sekreratis Daerah (Sekda) Banyuasin, H Parigan HN mengatakan untuk membunuh buaya tersebut pihaknya sangat dilema, di satu sisi masyarakat mendesak agar dibunuh di satu sisi lagi Pemkab Banyuasin harus tunduk pada aturan yang ada. Mengingat buaya merupakan salah satu hewan yang dilindungi.
"Namun mudah-mudahan ke depan mungkin ada wacana akan dibuat tanggul agar buaya tidak masuk ke sungai yang dekat dengan pemukiman warga dan tempat warga beraktivitas. Kalau ada penangkapan harus berkoordinasi dengan BKSDA (balai yang menangani hewan yang dilindungi). Sebab BKSDA-lah yang bertanggungjawab untuk menangkap," imbuh Parigan.
Menanggapi makin mengganasnya buaya, anggota DPRD Dapil Pulau Rimau, Syamsuri H Anang Jahri, meminta agar pihak terkait untuk segera mengambil tindakan. Sebab, selama ini meskipun telah beberapa kali dilakukan penangkapan, hasilnya tidak maksimal, tangkapan jauh dari yang diharapkan.
Terpisah, Kepala Seksi Konservasi Wilayah I (Muba-Banyuasin) Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel Suwardi mengatakan, pihaknya juga sangat prihatin dengan apa yang terjadi dengan masyarakat yang kerap menjadi korban serangan buaya. Namun, dia juga menegaskan, pihaknya tidak bisa berbuat terlalu
banyak karena hewan ganas tersebut dilindungi oleh undang-undang keberadaannya.
"Namun, salah satu upaya yang bisa dilakukan oleh warga yang tinggal di daerah pesisir pantai dan sungai-sungai adalah tidak mengganggu habitat buaya. Hal itu juga sudah pernah di sosialisasikan oleh pihaknya kepada warga. Jika hal itu
dilakukan, mudah-mudahan warga tidak akan diganggu," jelasnya seraya menyebutkan, pihaknya memang kekurangan tenaga pawang buaya.
Tujuh tewas, dua luka
Berdasarkan catatan Sriwijaya Post, sepanjang tahun 2008 dalam kurun Januari hingga Desember setidaknya sebanyak tujuh korban tewas dan dua orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan buaya. Bahkan hingga saat ini buaya yang menewaskan ketujuh korban tersebut masih bebas berkeliaran.
Para korban itu adalah
* Putra Rojal (25), Andira, dan Padai tewas setelah diseret buaya saat mandi di aliran Sungai Batang Hari Mukut pada Februari.
* Matsani Saputra (32), warga Desa Marga Sungsang, Kecamatan Banyuasin II, tewas di sekitar Tanjung Api-api, Kecamatan Tanjung Lago, saat hendak mencari kayu. Kejadian tersebut tepatnya terjadi pada 14 Juni sekitar pukul 14.00.
* Korban kelima adalah Sudirman (21), warga RT 2, Dusun I, Desa Sri Menanti, Kecamatan Tanjung Lago, tewas di Sungai Lalang, Desa Karang Agung, Pulau Rimau, disambar buaya saat hendak menambatkan perahunya. Juga ada dua orang yang tidak diketahui namanya yang tewas di Sungai Lalang Ulu pada November.
* Korban buaya yang selamat adalah Trisnawati (25) binti Mulatif, warga Mukut, Kecamatan Pulau Rimau, Kabupaten Banyuasin, digigit buaya saat sedang mandi pagi di aliran Sungai Batang Hari Mukut, 5 Maret sekitar pukul 06.00. Akibatnya, korban mengalami luka robek sebanyak 50 jahitan di kaki sebelah kanan dan urat
kakinya putus.
* Yang terbaru adalah Rusli yang disambar buaya saat menjala ikan. (syaifuddin)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang