JAKARTA, KAMIS — Masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki banyak sifat positif, antara lain sifat gotong royong dan ramah. Namun, sayangnya, kepentingan partai politik cenderung memanfaatkan, bahkan menindasnya. Ketika sadar, rakyat kemudian merasa terkhianati dan akhirnya enggan mempertahankan sifat-sifat positif tersebut.
Demikian diungkapkan anggota DPR dari Fraksi PAN, Sayuti Asyathri, dalam diskusi mengenai Ketahanan Ekonomi Indonesia di Rumah PAN, Rabu (10/12) malam.
"Ada kecenderungan dengan iklim politik yang terbuka dimanfaatkan oleh kekuatan politik yang hanya menonjolkan politik-politik simbol sehingga timbul ketidakpercayaan masyarakat terhadap penguasa politik karena ini hadir dari pemanfaatan dan penindasan terhadap perilaku-perilaku baik masyarakat," tutur Sayuti.
Hal ini menjadi imbauan bagi setiap parpol, termasuk PAN. Parpol harusnya mulai berhati-hati menentukan langkah, terutama menjelang digelarnya Pemilu 2009. Jangan sampai mengikis sifat positif tersebut.
Menurut Sayuti, upaya pemeliharaan sifat-sifat tersebut dapat ditempuh dengan mengembalikan keadilan antara pusat dan daerah, keadilan antardaerah, serta keadilan di pusat sendiri.
Ketua Umum Soetrisno Bachir pada kesempatan yang sama menyatakan kolaborasi antara sifat-sifat baik lokal dan budaya impor yang juga tak kalah baiknya perlu dipikirkan, apalagi di tengah arus globalisasi yang semakin kuat.
"Kita harus menyeleksi sehingga muncul simpul-simpul kesadaran bangsa kita menjadi networking untuk kita menyatukan visi membangun peradaban baru dan itu sintesis pertemuan dari budaya lokal dan asing yang sama-sama unggul," ujar Sutrisno.
"Misalnya budaya positive thinking, budaya gotong royong, maupun budaya berkompetisi secara sehat," kata Soetrisno Bachir.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang