BOJONEGORO, KAMIS - Dinas Kesehatan Bojonegoro, Jawa Timur, mewaspadai terjadinya peningkatan kasus penyakit demam berdarah dengue (DBD) di wilayahnya pada Desember 2008 hingga Februari 2009.
"Kami sudah menginstruksikan seluruh puskemas di Bojonegoro, juga kepala desa agar melakukan gerakan pencegahan berkembangnya nyamuk yang menyebarkan DBD itu, " kata Kepala Dinkes Bojonegoro, Anik Yuliarsih, kepada ANTARA, Kamis.
Dijelaskannya, jumlah penderita DBD mulai meningkat sejak November lalu setelah memasuki musim hujan.
Diperkirakan, jumlah penderita BDB pada Desember meningkat dan telah mencapai 13 penderita sepanjang bulan itu.
"Kami perkirakan jumlahnya masih akan terus bertambah, " katanya.
Daerah endemis DBD di Bojonegoro, diantaranya Kecamatan Kota Bojonegoro, Sumberrejo, Baureno, Kalitidu, Padangan, Sugihwaras dan Kedungadem.
"Daerah yang menjadi lalu lintas umumnya merupakan endemis DBD," katanya.
Karena itu, lanjutnya, upaya mencegah berkembangnya nyamuk penyebar DBD itu, baik yang masih jentik maupun nyamuk dewasa, dilakukan dengan abatisasi dan gerakan 3 M termasuk "fogging" setelah diketahui positip di suatu tempat diketahui ada penderita DBD.
"Seperti di Desa Sukorejo, Kecamatan Kota Bojonegoro, baru kami lakukan fogging karena diketahui di desa itu positip ada penderita DBD," katanya.
Menurut dia, intensitas berkembangannya penyakit DBD cenderung meningkat hingga Februari mendatang.
Karena itu, pihaknya juga mengajukan permintaan kepada operator minyak Blok Cepu (Mobil Cepu Limited/MCL) untuk ikut memberantas berkembangnya DBD.
Dari data di Dinkes Bojonegoro, jumlah penderita DBD di Bojonegoro hingga November 2008 sebanyak 306 orang, diantaranya enam orang meninggal, sedangkan tahun 2007 tercatat ada 806 penderita, diantaranya 24 orang meninggal.
Tahun 2006, ada 428 penderita, 12 orang diantaranya meninggal dunia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang