Menikmati Jimbaran di Ancol

Kompas.com - 12/12/2008, 09:49 WIB

Berkah kadang hadir di balik kedukaan. Barangkali itu yang dialami I Nyoman Suarjana. Bom Bali jilid II, 1 Oktober 2005, yang memorakporandakan resto miliknya, Jimbaran, malah memberi kesempatan kepadanya untuk menyebarkan ’virus’ Jimbaran ke Jakarta. Usaha itu ibarat gayung bersambut tatkala pihak PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk memang sedang ingin mengembangkan konsep kuliner di tepi pantai.

Kita memang ingin membangun pusat kuliner di tepi pantai. Tentu dengan keunikan masing-masing,” kata Sofia Cakti, Corporate Communication Manager, Department Corporate Plan PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, kepada Warta Kota pekan lalu.

Maka pada 19 Desember 2005, Jimbaran versi Ancol pun dibuka. Tak main-main, semua ‘diimpor’ langsung dari Bali. Jago-jago masak dari Pulau Dewata bertanggung jawab pada cita rasa masakan. Kain poleng, kain khas Bali berwarna putih, abu-abu, hitam, pun menyebar menutup batang-batang pohon yang ada di halaman resto berluas sekitar satu hektar itu.

”Semua orang dapur dari Bali, 95 persenlah. Karena kita ingin supaya orang benar-benar merasakan Jimbaran di Ancol. Kita juga bawa kesenian Bali ke sini, tari-tarian Bali yang dibawakan oleh karyawan di sini. Kita ingin cita rasa nuansa Pulau Dewata bisa dinikmati di sini,” ujar Manajer Pemasaran dan Promosi Ancol Jimbaran Resto, Johnny Soetrisno, saat Warta Kota bertandang.

Persembahan kesenian berupa tari penyambutan seperti Tari Topeng (Jago, Anoman, Tua) yang penuh ekspresi, Tari Cendrawasih, dan Tari Joget, bisa dinikmati pengunjung setiap Sabtu dan Minggu pukul 19.30. Resto yang buka setiap hari pukul 11.00-pukul 23.00 pada hari kerja dan hingga tengah malam pada akhir pekan dan malam libur ini tak bisa disangkal memang bernuansa mirip  seperti lokasi aslinya, Bali.

Bayangkan pantai, laut lepas, ombak di laut, bau air laut, semilir angin laut, kaki langit, kemilau sinar matahari yang memantul di laut, hingga senja menjelang. Meski mendung menggelayut di sebagian langit Jakarta, akhir November lalu, namun semburat matahari senja yang menghasilkan lukisan alam khas tepi laut ditambah alunan gamelan Bali yang terdengar sayup-sayup membuat pengunjung lupa, ini Jakarta atau Jimbaran?    

Khas

Menu khas Bali yang pas menemani sore menjelang malam. Es kelapa dengan berbagai macam campuran bisa melegakan haus sejenak. Tapi jangan sampai perut terlalu kenyang sebelum menyantap menu yang ditawarkan.

Pengunjung bisa memilih berbagai menu khas Bali yang diolah oleh juru masak asli Bali, seperti udang bakar bali berbumbu terasi yang seporsi dipatok sekitar Rp 50.000. Baunya saja sudah bikin lidah tak sabar ingin segera mencecap. Bumbu terasi yang melekat di sekujur tubuh udang dicocol dengan sambal—potongan cabai merah, cabai hijau, bawang merah, sereh dilumuri minyak yang digoreng—membuat semua rasa berkumpul bagai menampar-nampar saraf perasa di lidah. Bikin ingin dan ingin lagi.

Padahal itu belum kelar. Rasakan pula sentuhan lawar bali, seharga Rp 18.000/porsi, yang terdiri atas kacang panjang dipotong kecil-kecil, parutan kelapa yang dipanggang bercampur suwiran daging ayam dan semua berbalut bumbu bali.

Plecing kangkung yang satu ini tentu plecing kangkung asli Bli Bali. Maksudnya, asli Bali. Pengalaman melahap ikan kuwe berbumbu terasi dicocol sambal matah sambil diserbu angin pantai sore hari bakal makin genap dengan bebek betutu seharga sekitar Rp 35.000, yang begitu gurih empuk tanpa rasa amis.  

Sup ikan jimbaran, yaitu potongan ikan tuna bercambur seledri, tomat, bumbu bali  begitu segar bagi mereka yang sedang ingin makanan berkuah. Pisang rai, empuk manis, dan gurih, karena pisang raja/tanduk dilumuri tepung kemudian direbus untuk kemudian berlapis parutan kelapa dan gula.
            
Bagi mereka yang ingin merasakan hangatnya arak bali, bisa coba arak madu (arak putih), arak attack, arak dry, dan lainnya.  Menurut Johnny, arak madu adalah favorit pengunjung. Di luar itu coba saja fruit punch, ajeg-ajeg (jus alpukat), atau fruit cocktail yang segar karena campuran beberapa buah. Intinya, tak perlu jauh-jauh ke Bali untuk menikmati Jimbaran, meluncur saja ke Pantai Karnaval Ancol.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau