Wisatawan Minati KA Bergerigi

Kompas.com - 12/12/2008, 14:43 WIB

SEMARANG, JUMAT- Sampai saat ini, peminat wisatawan yang naik gerbong wisata eksotis kereta api (KA) bergerigi yang ditarik lokomotif buatan 1902 di Ambarawa, Kabupaten Semarang masih tinggi.
     
"Hingga saat ini lokomotif itu masih laik jalan dan siap menjelajahi daerah pegunungan dengan pemandangan yang indah, mulai dari Stasiun KA Ambarawa hingga Stasiun KA Bedono sepanjang 10 km," kata Dra. Anies, pemerhati kepariwisataan Kabupaten Semarang, Jumat.
     
"Wisata KA yang menjadi andalan Kabupaten Semarang ini memiliki jalur rel ke arah Bedono dan Tuntang, sementara jalur rel tujuan Ambarawa-Bedono-Jambu perjalanan wisata dilayani dengan KA bergerigi," katanya.
     
Perjalanan sepanjang 10 km ini ditempuh dalam waktu sekitar satu jam lamanya. "Berbeda dengan KA lainnya, perjalanan KA yang ditarik dengan lokomotif buatan 1902 ini jalannya sangat lambat. Karena kecepatan maksimumnya hanya mencapai 30 km/jam," katanya.
     
Menurut dia, justru dengan waktu yang lama wisatawan selama dalam perjalanan dapat menikmati panorama alam pegunungan yang indah dan berhawa sejuk. Berdasarkan data yang ada di Stasiun KA Ambarawa, jalur rel  yang dilalui antara Stasiun Jambu-Stasiun KA Bedono berada pada ketinggian 711 meter di atas permukaan laut.  
     
Memasuki kawasan ini sepanjang perjalanan, wisatawan akan melihat indah dan eloknya panorama alam berupa hamparan pegunungan, sawah hingga perkebunan buah-buahan.
     
Peminat pada objek wisata eksotis dengan naik KA bergerigi yang dimulai dari Stasiun KA Ambarawa, sekitar 45 km ke arah selatan Kota Semarang meningkat, dan itu bisa dilihat saat musim libur panjang kenaikan kelas serta kelulusan pada Juli 2008 lebih dari 10 rombongan wisatawan dari luar Jateng naik KA bergerigi ini.  
     
Rombongan wisatawan di antaranya berasal dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan beberapa kota lain di Jateng seperti Solo, Magelang, dan Peklaongan. Wisatawan kebanyakan pelajar menggunakan bus pariwisata dan wisatawan keluarga yang menggunakan mobil pribadi.
     
Pada hari-hari biasa wisatawan yang naik KA bergerigi ini kurang dari 10 kali perjalanan pulang pergi (PP) dalam setiap bulan.
     
Jika rombongan wisatawan ingin naik KA bergerigi ini harus pesan dulu Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang, karena KA ini tidak dijalankan setiap saat/reguler.
     
Satu rombongan dikenai biaya sekitar Rp 2 juta dengan lama perjalanan dua jam pulang pergi antara Stasiun Ambarawa-Stasiun Bedono.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau