Wapres Janji Atasi Kelangkaan Elpiji dalam Dua Hari

Kompas.com - 12/12/2008, 17:30 WIB

JAKARTA, JUMAT - Wakil Presiden Jusuf Kalla menjamin dalam waktu dua atau tiga hari kelangkaan gas elpiji (LPG) sudah tidak terjadi lagi dan akan kembali dalam keadaan normal. Kelangkaan tersebut akibat terjadinya masalah di kedua kilang yakni Balongan dan Cilacap.

"Intinya adalah kalau salah satu ini sudah baik. Cilacap dan Indramayu (Balongan) baik, maka cadangan kita cukup. Apalagi kalau kedua-duanya segera baik, dalam dua hari ini Indramayu baik," kata Wapres Jusuf Kalla di Jakarta, Jumat ketika ditanyakan soal kelangkaan gas elpiji belakangan ini.

Menurut Wapres, terjadinya kelangkaan gas elpiji, salah satunya akibat masalah teknis di tempat pengisian di Cilacap dan Indramayu (Balongan). Selain itu juga adanya percepatan penerimaan masyarakat atas program konversi minyak tanah ke gas elpiji.

"Tentu kita merasa bersyukur bahwa upaya pemerintah untuk mengkonversi minyak tanah ke elpiji itu sangat disambut positif oleh masyarakat dan pemerintah juga berusaha memperbaiki," kata Wapres.

Wapres mengakui bahwa percepatan tersebut sudah baik, dan pemerintah terus membangun infrastruktur, seperti tempat timbun, dan juga menyediakan trailer-trailer sampai dengan pengecer.  Menurut Wapres, sebenarnya semua berjalan lancar. Namun karena adanya kerusakan teknis di Cilacap dan Indramayu secara bersamaan, kejadian itu menimbulkan kelangkaan.

Ia mengatakan, jika terjadi kekurangan persediaan, yang terjadi biasanya orang yang tidak kurang ikut membeli supaya jangan tidak kekurangan.  Karena itu ia telah memerintahkan PT Pertamina agar menyiapkan stok gas elpiji yang cukup.

"Nah ini sudah siap, tinggal percepatan pengisian. Mereka (Pertamina) kerja 24 jam. Pak Ari Soemarno (Dirut PT Pertamina) sudah menjanjikan sama saya akan menormalkan dua hari ini. Jadi kira-kira Senin atau Selasa normal," katanya.

Wapres membantah adanya anggapan kelangkaan tersebut dan unsur kesengajaan. Menurutnya yang terjadi benar-benar karena keterlambatan dalam pengisiannya saja. Selain itu, ia juga menjelaskan saat ini di Indonesia baru ada 50 tempat pengisian gas elpiji, padahal yang diperlukan idealnya ada 200 tempat pengisian. Sementara saat ini program konversi minyak tanah ke gas elpiji baru berjalan 50 persen.

Selain itu Wapres juga meragukan jika gas elpiji isi tiga kg banyak diborong oleh kalanan menengah atas. Menurut wapres hal itu akan sulit terjadi.

"Saya tidak yakin, kenapa? Karena mereka pasti malu nenteng-nenteng gas tiga kilogram masuk rumah gedongan. Industri juga pasti nggak ada. Setengah jam sudah habis," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau