Pemerintah Harus Tegas Terhadap Investor Tol

Kompas.com - 12/12/2008, 18:05 WIB

Laporan Wartawan Kompas, Haryo Damardono

JAKARTA, JUMAT - Pemerintah harus bertindak tegas terhadap investor tol yang lamban membangun jalan tol. Ketegasan ini diperlukan sebab realisasi pembangunan tol di Indonesia sangat jauh dari harapan.

"Bila tol tak segera dibangun, pemerintah tak usah ragu lagi untuk memutus kontrak. Kontrak harus diputus karena masyarakat telah menunggu terlalu lama. Dan beri kesempatan kepada investor yang lebih mampu membangun tol," kata pemerhati transportasi Rudy Thehamihardja, Jumat (12/12) saat dihubungi di Bogor.

Rudy menambahkan, pemerintah salah besar bila enggan memutus kontrak karena menganggap proses tender ulang terlalu lama. Bila masalahnya hanya lamanya proses tender, ya proses itu yang harus dipercepat, ujar dia. Rudy menambahkan pemutusan kontrak juga memberi pelajaran investor untuk tidak main-main.

Nurdin mengakui, pemerintah sulit memutus kontrak lantaran proses tender ulang dapat menghabiskan waktu hingga dua tahun. Padahal sebagian besar investor tol, kata Nurdin melanggar Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT).

Contoh pelanggaran PPJT adalah, dua tahun berselang setelah PPJT ditandatangani, sebagian besar lahan di ruas Tol Trans-Jawa belum dibebaskan. Padahal umumnya, investor menandatangani PPJT antara April-Desember 2006.

Karena berbagai keterlambatan dalam pembebasan lahan, Nurdin mengatakan, tahun depan hanya satu ruas tol yang mampu dioperasikan secara penuh, yakni Tol Kanci-Pejagan (35 kilometer). Tol ini diperkirakan beroperasi Mei 2009.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau