"Bengawan Solo" dalam Musik Tradisional China

Kompas.com - 13/12/2008, 01:19 WIB

Lagu Bengawan Solo karya maestro keroncong asal Solo, Gesang Martohartono, dinyanyikan dalam irama keroncong, itu biasa. Namun, kalau ”Bengawan Solo” dinyanyikan dalam irama keroncong dengan iringan musik tradisional China, itu tidak biasa. Inilah yang ditampilkan Harmony Chinese Music Group Bandung pada Festival Keroncong Internasional 2008 atau International Keroncong Festival di Solo, Jawa Tengah, Kamis (4/12) malam.

Menggunakan alat-alat musik tradisional China, Harmony Chinese Music Group mempersembahkan permainan musik dalam irama keroncong yang menawan, mengiringi penyanyi Catya yang membawakan lagu ”Bengawan Solo”, ”Bunga Anggrek”, ”Bandung Selatan di Waktu Malam”, dan ”Jembatan Merah”.

Permainan alat musik, seperti yangqin (kecapi pukul), guzheng (kecapi), liuqin (chinese okulele), erhu (alat musik seperti rebab), pipa (chinese lute), sanxian (chinese banjo), danuan (bass), ruan (chinese gitar), dan dizi (suling), memukau ratusan penonton yang memenuhi Sitihinggil (salah satu tempat kegiatan raja) Keraton Surakarta, Solo.

Persembahan lagu ”Bengawan Solo” dari penyanyi Catya seakan membawa ”Bengawan Solo” ke negeri Tiongkok. Bahkan, Catya sempat berduet dengan GKR Wandansari (Pengageng Sasono Wilapa Keraton Surakarta) dalam lagu ”Jembatan Merah”.

”Menjadi peserta festival keroncong merupakan tantangan bagi kami karena ini pertama kali kami memainkan musik China dalam irama keroncong. Walau begitu, kami ingin menampilkan terbaik dan ikut memberi warna kebudayaan Indonesia,” ujar Andrey Harmony, Manajer Harmony Chinese Music Group, seusai pertunjukan.

Selain musik China, hari pertama IKF 2008 juga menampilkan karya musik keroncong dari negeri jiran Malaysia lewat penampilan Yayasan Warisan Johor. Permainan musik keroncong bernapaskan musik melayu mengiringi persembahan lagu berjudul ”Bunga Tanjung”, ”Bisikan Hati”, ”Aku dan Dia”, dan ”Gerimis Mengundang” dari Wahidah Abdulrahman. Lagu ”Gerimis Mengundang” yang juga populer di Indonesia dibawakan Wahidah dalam alunan suara yang menawan, menggetarkan hati.

”Saya bangga dan gembira karena bisa tampil dalam festival ini. Saya berusaha menghayati lagu-lagu yang akan dinyanyikan,” ujar Wahidah, yang mengaku baru pertama kali datang ke Solo.

Selain peserta dari Bandung dan Malaysia, penampilan dari Canina (Surabaya), Irama Bama (Surabaya), Congrock (Semarang), dan Orkes Damai (Solo) juga menjadi tontonan menarik. Di sela-sela festival keroncong, panitia IKF menyelipkan acara peragaan busana batik.

Sayangnya, walaupun suguhan acara ini menarik ditonton, antusiasme masyarakat untuk menyaksikan pertunjukan musik keroncong pada hari pertama IKF 2008 tidak terlalu besar. Kegiatan Solo City Performance di Solo Grand Mall dan Solo Square yang digelar siang hari juga tidak banyak mengundang perhatian penonton.(SONYA HELLEN SINOMBOR)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau