Kota Malang Terendam Banjir

Kompas.com - 13/12/2008, 19:47 WIB

MALANG, SABTU - Hujan deras yang mengguyur Kota Malang Jawa Timur pada Sabtu (13/12) praktis membuat genangan air merendam kota tersebut. Setidaknya ada ratusan rumah terendam banjir, jalan-jalan kota tergenang air, arus lalu lintas macet selama berjam-jam, bahkan banjir juga merenggut satu nyawa seorang pengendara sepeda motor yang mengalami kecelakaan lalu lintas.

Hujan sejak pukul 13.00-pukul 18.00 WIB membuat sejumlah jalan di Kota Malang seperti Jalan Galunggung, Jalan Panderman, Jalan Bondowoso, Jalan Veteran, Jalan Sigura-Gura, Jalan Letjen Sutoyo, Jalan Ahmad Yani, Jalan Kawi, Jalan Raya Dieng, dan sejumlah jalan-jalan lainnya terendam air. Bahkan genangan air di Jalan Bondowoso yang memang lokasinya cekungan, tinggi genangan air mencapai dada orang dewasa.

Jumlah rumah warga yang terdendam air jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan rumah. Rumah-rumah yang terendam itu antara lain 32 rumah di Jalan Kedawung RT 1 RW 5 dan RT 2 RW 5 Kelurahan Tulusrejo Kecamatan Lowokwaru, 50-an rumah di Kelurahan Gadingkasri Kecamatan Klojen, belasan rumah di Jalan Bantaran, belasan rumah di Jalan Letjen Sutoyo, Jalan Kawi, dan jalan-jalan lain yang juga terendam air.

"Banjir terjadi sekitar pukul 14.00 WIB. Kala itu hujan cukup deras. Ini banjir besar pertama kali yang masuk rumah saya," tutur Eni Wahyuni, warga yang rumahnya terendam setinggi perut orang dewasa di RT 10 RW 2 Kelurahan Gadingkasri Kecamatan Klojen.

Sementara itu menurut Bambang Mulyatno, staf Kelurahan Tulusrejo sekaligus warga RW 5 Kelurahan Tulusrejo (Jalan Kedawung), mengatakan banjir di Kedawung tersebut sudah ketiga kalinya dalam bulan ini. Namun banjir kali ini merupakan banjir terparah, sebab ketinggian air bisa mencapai dua meter dari jalan dan sekitar 1 meter di dalam rumah warga.

Ketua RW V Kelurahan Tulusrejo, Jani Setiono, mengatakan Sabtu malam akan disiapkan tenda-tenda darurat untuk tempat evakuasi warga yang rumahnya masih terendam banjir.

"Bantuan 10 kardus mie, gula, kopi, dari berbagai pihak sudah masuk. Nanti akan segera dibagikan ke warga," tambah Bambang.

Sekitar pukul 19.00 WIB, genangan air yang masuk rumah warga mulai surut. Warga terus berusaha menguras air yang menggenangi rumahnya.

Sementara itu akibat genangan air di mana-mana, terjadi kecelakaan lalu lintas di Jalan Ahmad Yani (sekitar perumahan Riverside Arjosari). Seorang warga Nguling Pasuruan berusia 45 tahun, yang sedang menuntun sepeda motornya yang macet karena genangan air, tertabrak mobil kijang warna putih yang melaju kencang ke luar Kota Malang. Si penabrak langsung kabur dan membiarkan korban begitu saja. Korban tewas seketika.

Sekretaris Satkorlak Penanganan Bencana Kota Malang, Sukirno, ketika dihubungi mengatakan bahwa saat ini Satkorlak Penanggulangan Bencana Kota Malang sedang membuat posko-posko penanganan bencana di lokasi.

Banjir di Kota Malang sudah menjadi rutinitas tahunan. Banjir terjadi seiring terus tergerusnya ruang terbuka hijau di sana. Tahun 1994 jumlah RTH masih sekitar 7.160 hektar dari luasan Kota Malang 11.005,7 hektar. Dua tahun berikutnya jumlah RTH terus berkurang menjadi 6.957 hektar dan menjadi 6.615 hektar pada 1998. Tahun 2000 jumlahnya 6.415 hektar dan 2002 tinggal 6.367 hektar.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau