Hujan Sejak Jumat, Rel Terendam dan KA Tertahan

Kompas.com - 13/12/2008, 20:59 WIB

SURABAYA, SABTU - Hujan deras yang mengguyur Surabaya sejak Jumat (12/12) merendam lintasan rel kereta api antara Stasiun Kandangan Benowo KM 217+500 hingga KM 218+300. Akibatnya, kereta api Argo Anggrek, Sembrani, dan Gumarang dari Jakarta menuju Surabaya sempat tertahan dan harus berputar melalui Solo.

Kereta api tidak bisa melewati lintasan karena rel menggantung (tidak menempel tanah) setelah air dalam jumlah besar menggerus batu balas hingga ambles. Menurut penjaga lintasan Imam Rivai yang berjaga se malaman, air mulai merendam rel sejak pukul 18.00 dan mulai surut sekitar pukul 23.00.

Kepala Humas PT KA Daerah Operasi VIII Sugeng Priyono mengatakan, dari 800 kilometer rel yang terendam,, 200 meternya menggantung. "Dalam kondisi ini tidak mungkin kereta melintas, maka kereta kami putar lewat Solo," ujarnya Sabtu.

KA Gumarang yang bertolak Jumat dari Jakarta pukul 17.30 diputar lewat Solo sehingga lama perjalanan yang seharusnya 12 jam molor hingga 15 jam. Begitu juga untuk KA Sembrani tujuan Surabaya yang berangkat pukul 19.00 dari Jakarta.

Sedangkan penumpang KA Argo Anggrek yann berangkat dari Jakarta pukul 08.00 justru harus diberhentikan di Stasiun Lamongan. Selanjutnya, sekitar 350 penumpang diangkut menggunakan tujuh armada bus hingga ke Surabaya.

"Kami harus bertanggungjawab mengantar penumpang sampai tujuan, jadi semua cara kami pakai," ujar Sugeng.

Hal yang sama juga berlaku bagi penumpang Argo Anggrek tujuan Jakarta yang berangkat dari Surabaya pukul 20.00. Menggunakan bus, mereka diantar sampai Lamongan dan melanjutkan perjalanan dengan kereta.

Berdasarkan pengamatan pada hari Sabtu, rel yang sempat terendam sudah kering. Para pekerja telah selesai menyangga rel dengan baja menunggu pengiriman batu balas.

"KA Argo Anggrek tujuan Jakarta yang berangkat dari Surabaya pukul 08.00 kemarin sudah melewati rel yang sempat menggantung. Rel sudah bisa dilintasi meskipun kecepatan kereta yang biasanya 70 kilometer per jam kami minta sekitar 5 kilometer per jam saja," ujar Sugeng.  

 

Terbenam

Air yang sempat menggenangi jalanan dan permukiman warga memang sudah surut. Namun desa Sememi Rejo Asri yang terletak 500 meter dari lintasan KA justru terbenam. Salah satunya RT 04 yang didiami sekitar 30 keluarga.

Sekretaris RT Edy Prayitno yang rumahnya terbenam mengatakan, air di rumahnya sempat mencapai 1,5 meter atau setinggi lehernya. "Jumat malam air setinggi leher, waktu pagi tinggal sepaha," ujarnya. Meskipun begitu jalan-jalan di desa masih terbenam air hingga setinggi dada.

Mayoritas warga sudah mengungsi sejak Jumat karena tidak ada tempat berlindung. "Saya langsung ngungsi ke rumah ayah waktu liat air setinggi leher. Semua perabotan sudah hilang," ujar perempuan yang tinggal bertiga dengan kakak dan iparnya.

Kondisi ini, kata Edy, merupakan banjir terparah yang dialami warga sejak dua tahun terakhir. Salah satu penyebabnya ialah belum ada gorong-gorong yang menggelontorkan air dari Kali Banyuurip.

"Kami selalu bikin proposal ke kelurahan untuk segera dibikin gorong-gorong, akhirnya gagal karena terhalang pembangunan perumahan mewah," jelasnya. (SIN)    

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau