Tarif Angkutan Harus Ditinjau Ulang

Kompas.com - 15/12/2008, 09:34 WIB

SEMARANG, SENIN — Ketua Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) Semarang Ngargono mendesak pemerintah segera meninjau ulang tarif angkutan umum menyusul diturunkannya harga premium dan solar.
   
"Penurunan harga premium dan solar saat ini cukup besar sehingga tarif angkutan umum yang ditetapkan pada 24 Mei juga harus dihitung ulang," katanya di Semarang, Senin (15/12), menanggapi penurunan harga premium dan solar.
   
Harga premium sebulan terakhir ini mengalami penurunan Rp 1.000 per liter dari Rp 6.000 menjadi Rp 5.000, sedangkan solar dari Rp 5.500 turun Rp 700 menjadi Rp 4.800. Penurunan harga BBM ini merupakan penyesuaian dari harga BBM dunia yang melorot hingga kisaran 50 dollar AS per barrel.
   
Ia menjelaskan, penghitungan tarif angkutan umum memang bukan hanya ditentukan oleh harga BBM karena masih ada 13 komponen lain, di antaranya harga suku cadang, oli, biaya perizinan, dan pengadaan angkutan.
   
"Dengan asumsi harga 13 komponen lain tersebut relatif tetap, setidaknya dengan harga premium dan solar seperti sekarang ini tarif angkutan umum bisa turun hingga 10 persen daripada tarif lama," kata Ngargono.
   
Menurut dia, penurunan tarif tersebut bisa mendorong kenaikan load factor angkutan umum karena masyarakat memiliki pilihan alat transportasi lain yang harganya juga menurun.      
   
"Kalau saat ini load factor angkutan umum 60 persen dari tempat duduk, bila tarif turun, bisa meningkat di atas 70 persen," ujarnya. Yang menjadi persoalan, katanya, ketika pemerintah mengumumkan penurunan harga premium dan solar, tidak ada tanda-tanda untuk menerbitkan peraturan mengenai tarif baru dari Direktorat Perhubungan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau