Pietra Sarosa, Sering Deal di Kafe

Kompas.com - 15/12/2008, 10:31 WIB

Lajang berusia 29 tahun ini dikenal sebagai konsultan waralaba yang laris. Pengalamannya bisa Anda jadikan inspirasi.

Bagaimana, sih, awal berdirinya Pietra Sarosa Consulting?
Lulus kuliah di Akuntansi Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, tahun 2002, saya bergabung dengan sebuah perusahaan akuntan publik. Tidak sampai setahun, saya keluar. Pekerjaan ini tidak sesuai dengan jiwa saya. Teknisnya, sih, bisa. Tapi di akunting, kan, ada pakem yang kalau dilanggar, bisa masuk penjara. Saya pikir ini membatasi kreativitas saya.

Setelah sempat gabung dengan sebuah usaha konsultan keuangan, tahun 2004 saya buka sendiri. Di tempat kerja lama, saya belajar bagaimana menjadi personal financial planner, yang membuat orang lebih sejahtera dengan konsep keuangan pribadi. Tapi, saya pikir, di Indonesia problemnya bukan bagaimana seseorang mengelola keuangan, melainkan bagaimana menambah penghasilan. Kalau income sudah mentok, dikelola kayak apa, ya, tetap kurang.

Bagaimana, dong, cara mengatasinya?
Nah, satu-satunya cara, cari penghasilan baru. Kalau mau muter duit, ya, buka usaha. Saya pun mulai menekuni konsep-konsep bisnis riil seperti ini. Jadi, ketika buka konsultan, saya ingin bagaimana supaya orang bisa buka usaha kecil. Saya pilih jadi konsultan small business dan franchise karena pangsa pasarnya sangat besar dan akan terus berkembang. Apalagi franchise adalah cara paling efektif mengembangkan usaha kecil.

Kok bisa begitu?
Usaha besar, kan, enggak perlu franchise. Modal besar seperti KFC, Pizza Hut, sanggup langsung buka cabang. Tapi, Bakso Kota Cak Man, kan, relatif kecil. Mau buka cabang, berat. Ya, sudah, kerja sama aja dengan orang lain dalam bentuk waralaba.

Bagaimana caranya mendalami franchise?
Saya ikut training, belajar sendiri, dan langsung terjun. Teorinya, kan, saya sudah tahu. Ilmu tentang franchise saya tulis dalam buku. Sambutan pembaca bagus karena keluar saat franchise booming. Franchise baru mulai sekitar tahun 2003, buku keluar setahun berikutnya. Buku itu menjadi semacam guidance (panduan).

Usaha apa saja sih, yang bisa diwaralabakan?
Banyak sekali. Selama ini banyak yang mengira franchise hanya usaha di bidang kulier. Sebenarnya enggak begitu. Ada ritel, otomotif, jasa, perawatan, penginapan, dsb. Yang diwaralabakan biasanya usaha yang sudah teruji bagus dan disukai orang.

Apa saran Anda bagi yang ingin jadi franchisee (penerima waralaba)?
Pertama-tama tentu saja sesuai minat. Kalau enggak suka kuliner, jangan masuk ke situ, karena nanti bisnisnya tidak akan diperhatikan. Tapi, minat tidak berarti bisa, lho. Orang yang minat kuliner belum tentu pintar masak, tapi minimal punya lidah yang bagus. Waralaba itu konsepnya jadi pengusaha mandiri, bukan jadi anak buah si pemberi waralaba. Jadi, hidup matinya usaha tergantung kita sendiri. Dengan minat yang kuat, usaha bisa berjalan bagus.

Lalu, sesuaikan dengan kemampuan Anda. Di luar, pasaran banyak banget. Jangan tergiur asal murah, tapi lihat dulu "dalamnya" kayak apa. Minta transparansi apa pun dari pihak pemberi waralaba dan siapa saja yang sudah jadi penerima waralaba. Anda telepon mereka yang sudah jadi penerima waralaba, cari tahu kondisi usaha. Kalau pihak pemberi waralaba enggak mau kasih informasi, lebih baik langsung dibatalin. Ada kemungkinan sikap tertutup terjadi karena hubungan pemberi dan penerima waralaba kurang bagus. Yang lebih parah, jangan-jangan usahanya rugi.

Tak kalah penting, jangan pilih usaha yang musiman. Misal, jenis pisang yang booming beberapa waktu lalu, tapi kemudian cepat menghilang. Cari barang yang selalu dicari orang. Misalnya kesehatan, pendidikan, dan penampilan.

Untuk yang ingin jadi pemberi waralaba?
Mereka yang ingin mewaralabakan usahanya, biasanya akan menanyakan cara membuat sistem. Kadang sebatas konsultasi, sering pula saya diminta langsung membuatkan. Kebanyakan persoalan dalam usaha memang berangkat dari tidak adanya sistem yang baik dan benar. Contohnya, karyawan sering keluar. Setelah diteliti, ternyata memang tidak ada sistem rekrutmen yang jelas. Gaji pun tidak jelas.

Masalah apa yang paling sering dikonsultasikan klien?
Orang yang mau buka usaha, bertanya bisnis apa yang bagus. Saya enggak pernah memberi saran dengan satu pilihan. Sebelumnya, saya mencoba menggali klien dari sisi niat, minat, keterampilan, motivasi, dan dana yang tersedia. Kami diskusi bareng sampai mengerucut jadi satu pilihan. Klien harus mantap dengan pilihannya itu.

Ada usul, sebaiknya usaha dimulai dari mana?
Sebenarnya, usaha bisa dimulai dari mana saja, termasuk rumah sendiri. Contohnya rental Play Station (PS). Tidak perlu ruang luas, yang penting suasana nyaman. Cukup gelar karpet dan beri AC. TV-nya juga tidak perlu baru. Saya kira usaha ini tidak perlu modal terlalu besar.

Yang juga harus diingat, jangan sampai usaha yang dilakukan mengganggu periuk nasi di dapur. Untuk yang sudah kerja, saya tidak menyarankan berhenti kerja, lalu buka usaha. Sambil kerja pun, bisnis bisa jalan. Kalau kemungkinan terpahit terjadi yaitu usaha gagal, Anda tetap bisa makan. Makanya jangan terpengaruh dengan provokasi, "Ayo berhenti kerja, jadi wirausaha sekarang juga."

Anda juga sering memberi berbagai pelatihan?
Benar. Saya sering memberi pelatihan ke berbagai instansi. Belum lama ini ada perusahaan yang 40 karyawannya pensiun dini. Masing-masing karyawan mendapat pesangon antara Rp 200-300 juta. Manajemen perusahaan mengatakan, kalau tidak dapat bekal, uang pesangon bisa habis begitu saja. Saya diminta memberi training bagaimana cara buka usaha.

Saya juga sering memberi pelatihan di kampus-kampus, baik untuk mahasiswa maupun dosennya. Saya mengajari dosen bagaimana cara membuat perencanaan bisnis untuk mata kuliah wirausaha. Saya baru saja mengadakan road show ke kampus-kampus dalam rangka Becoming Young Entrepreneur: Berani Coba, Berani Gagal, Berani Bangkit Lagi. Kebetulan, saya memang ingin mencetak sebanyak-banyaknya pengusaha, termasuk pengusaha muda. Makanya saya senang bicara di kampus-kampus. Tugas saya menanamkan mindset untuk mahasiswa.

Sekarang ini saya sedang "jalan" dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga membuat lomba wirausaha berprestasi. Saya terlibat mulai dari merancang konsep, sosialiasi jaring peserta, sampai mencari juri.

Apa yang membahagiakan sebagai konsultan?
Tentu bila usaha klien berjalan bagus. Kadang memang ada yang tidak berkembang. Meski begitu, mereka masih sering kontak. Ini pertanda mereka puas. Dengan kata lain, problem usaha ada pada mereka sendiri, misalnya mismanagement di dalam. Atau bisa juga pecah partnership. Konsultan memang sifatnya hanya memberi saran. Penerapannya mutlak tergantung klien.

Saya juga terkesan dengan klien yang selalu mengabarkan perkembangan usahanya. Ini, kan, indikator dia puas dengan konsultasi yang saya berikan. Di sisi lain, saya juga menawarkan free konsultasi kepada klien. Waktunya bisa kapan saja.

Berarti hubungan Anda dengan klien cukup dekat?
Begitulah. Saya memang harus membina hubungan baik dengan klien. Sebisa mungkin saya memberi lebih dari yang saya janjikan. Misalnya janji 3, saya akan kasih 4. Malah, supaya klien nyaman, kadang saya menawarkan konsultasi di luar kantor. Sering lo, kami ketemu di kafe dalam suasana santai sambil minum kopi. Meski begitu, tujuan tercapai. Deal saya malah kebanyakan terjadi di kafe.

Omong-omong, kok, tertarik jadi konsultan?
Bakat jadi konsultan sudah muncul sejak saya SMA di Solo. Teman-teman sering curhat saat ada masalah. Orang percaya karena saya bisa jaga rahasia, dan juga sering bisa kasih arahan yang tepat. Itu, kan, dasar jadi konsultan.

(Selain konsultasi lisan, Pietra juga melayani konsultasi tertulis. Anak tunggal pasangan Bambang Sarosa dan Poppy Sulistyowati ini juga dipercaya menjadi kontributor berbagai media bisnis, dan membawakan talk show di berbagai radio. Di luar kesibukannya, lajang yang berencana menikah tahun depan ini hobi nonton bioskop. "Saya hobi nonton film komedi dan yang berdasarkan kisah nyata.)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau