2009, Infrastruktur Penopang Utama Pasar Modal

Kompas.com - 16/12/2008, 11:21 WIB

JAKARTA, SELASA  - Saham-saham sektor infrastruktur diperkirakan akan menjadi penopang utama indeks pasar modal Indonesia pada tahun 2009.

Tingginya komitmen pemerintah untuk mempercepat berbagai proyek infrastruktur diyakini akan meningkatkan pendapatan emiten-emiten di sektor tersebut, yang selanjutnya akan terefleksi pada harga sahamnya.

Hal itu disampaikan Head of Research & Analysis Asia Financial Network (AFN) Rowena Suryobroto dan partner AFN, Pribadi Agung Sujagad, pada acara ”Analisa Prospek Ekonomi dan Industri Infrastruktur 2009” di Jakarta, Senin (15/12).

Tahun depan, kata Rowena, harga saham-saham sektor infrastruktur akan menguat melebihi saham sektor lainnya. Hal ini terjadi karena kinerja operasional dan keuangan emiten sektor infrastruktur akan meningkat seiring dengan banyaknya proyek pembangunan dari pemerintah.

Sebaliknya, bagi emiten yang bergerak di sektor lainnya, seperti pertambangan, perkebunan, industri dasar, dan perdagangan, diperkirakan akan menjadi tahun yang sulit. Sektor-sektor itu akan mengalami penurunan pendapatan seiring dengan melambatnya perekonomian global.

”Mengantisipasi perlambatan ekonomi, pemerintah akan mempercepat dan memperbanyak proyek infrastruktur karena sektor ini banyak menyerap tenaga kerja, menciptakan perputaran uang yang tinggi, serta memiliki efek bola salju yang besar dalam perekonomian nasional. Kami perkirakan, kebijakan ini masih akan diteruskan pemerintah terpilih 2009 nanti,” kata Rowena.

Selain karena kebijakan pemerintah itu, Rowena menambahkan, sektor infrastruktur juga menjadi menarik karena biaya modalnya akan turun seiring dengan penurunan suku bunga perbankan, masih banyaknya daerah yang belum mencapai standar infrastruktur minimum, desakan kalangan usaha untuk memperbaiki sektor ini, serta adanya program pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW.

Dari berbagai indikasi itu, dia memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto sektor konstruksi tahun 2009 6-7 persen atau 30 persen lebih tinggi dari perkiraan pertumbuhan ekonomi 2009 di level 5-6 persen.

Pemihakan kepada pebisnis

Sementara itu, Pribadi Agung Sujagad mengatakan, pertumbuhan dan kondisi ekonomi Indonesia tahun 2009 akan didukung beberapa hal positif. Pertama, Pemilu 2009 akan meningkatkan perputaran uang.

Kedua, stabilitas politik yang lebih baik menjelang pemilu akan meningkatkan kepastian bisnis serta kepercayaan pasar kepada Indonesia. Ketiga, kebijakan-kebijakan pemerintah yang memihak kepada komunitas bisnis, seperti debirokratisasi dengan tujuan utama intensifikasi penyerapan anggaran serta mengutamakan proyek-proyek padat karya.

Selain itu, lanjut Pribadi, pemerintah juga menyiapkan beberapa langkah yang dapat menjadi katalis pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2009, seperti mengurangi pajak korporasi, meningkatkan kualitas regulasi pasar modal, dan meningkatkan upaya menarik investasi asing langsung.

”Pemerintah memiliki kesiapan lebih baik untuk menghadapi kondisi saat ini dibandingkan krisis tahun 1997,” katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau