JAKARTA, SELASA — Habis manis sepah dibuang. Kira-kira demikianlah pepatah yang tepat menggambarkan nasib para purnawirawan dan warakawuri yang tinggal di Perumahan Dwikora Cimanggis, Depok.
Pasalnya, mereka yang sudah berpuluh-puluh tahun tinggal di sana sudah berkali-kali menerima peringatan untuk keluar dari rumah mereka. Bagaimanapun jasa para purnawirawan dan warakawuri ini tak dapat dilupakan saja sebagai bagian dari sejarah NKRI.
"Kami ini pernah berjuang bahkan setelah merdeka. Ke Irian Jaya, Lampung. Janganlah habis manis sepah dibuang," ujar Atje Somantri (66), yang menjabat Staf Ahli Kepala Staf Angkatan Udara ketika pensiun dalam keterangan pers di Kantor Kontras Jakarta, Selasa (16/12).
Para purnawirawan meminta TNI AU berpikir secara jernih mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi para purnawirawan ini, apalagi banyak dari mereka yang memastikan diri tak memiliki cukup uang untuk memperoleh tempat tinggal baru.
Para purnawirawan ini hanya mendapatkan uang pensiun dalam rentang jumlah Rp 400.000 hingga Rp 2.300.000 sesuai dengan pangkat terakhir ketika mereka pensiun. "Kami meminta pemerintah atau TNI mempertimbangkan kami yang sudah tua renta, lumpuh, dan sakit-sakitan dan sebagian besar tidak memiliki rumah sendiri sehingga tidak menjadi beban negara," ujarnya.
Terakhir kali warga perumahan ini mendengar kabar bahwa TNI AU akan melakukan pengosongan secara paksa perumahan tersebut pada tanggal 17 Desember dinihari. Tindakan ini diambil TNI AU sebagai bagian sengketa lahan di kawasan ini.
Namun, sebenarnya putusan Pengadilan Negeri Cianjur tanggal 4 November 2008 menyebutkan bahwa tanah di lingkungan Perumahan Dwikora tersebut bukanlah tanah milik TNI AU seperti yang diklaim selama ini. Tanah seluas 22 hektar tersebut, di mana perumahan berdiri di atas tanah lima hektar di antaranya merupakan hibah dari seorang pengusaha, almarhum Gerald Tugo Faber, yang dihibahkan kepada purnawirawan dan warakawuri di perumahan tersebut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang