Kabinet Abhisit Probisnis

Kompas.com - 17/12/2008, 03:36 WIB

BANGKOK, SELASA - Pemerintahan baru Thailand di bawah Perdana Menteri Abhisit Vejjajiva mulai menyusun kabinet, Selasa (16/12). Kabinet baru akan memprioritaskan perbaikan kinerja ekonomi yang terpuruk akibat aksi protes kelompok antipemerintah selama enam bulan terakhir.

”Abhisit akan mengawasi tim ekonomi karena pemerintahan ini memprioritaskan persoalan ekonomi,” kata Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Suthep Tuagsuban.

Abhisit, lulusan Oxford University, memiliki latar belakang ekonomi, probisnis yang kuat. Dia diharapkan memiliki tim ekonomi yang solid saat kabinet diumumkan, kemungkinan pada akhir pekan ini.

Analis mengatakan, akan lebih sulit bagi Partai Demokrat untuk memperoleh hasil cepat dalam menangani persoalan ekonomi dibandingkan dengan tahun 1997 saat Asia dilanda krisis ekonomi. ”Sekarang segala sesuatu sepertinya melambat,” kata Ekamol Khiriwat, mantan Direktur Bursa Saham Thailand.

Bursa Thailand merosot hingga 50 persen sejak Mei lalu saat kelompok antipemerintah memulai protes untuk menggulingkan pemerintahan. Thailand juga kehilangan pemasukan 3,8 miliar dollar AS karena pendudukan di Bandara Suvarnabhumi oleh ribuan pemrotes.

Posisi kabinet akan dibagi-bagi di antara anggota Partai Demokrat dan mitra koalisi dari partai- partai yang lebih kecil. Dukungan partai kecil yang membelot itulah yang memberikan kemenangan tipis bagi Abhisit.

Abhisit Vejjajiva terpilih sebagai PM Thailand ke-27, Senin, dengan mengantongi dukungan 235 suara anggota parlemen. Akan tetapi, dia sudah menghadapi perlawanan dari pendukung pemerintahan lama yang promantan PM Thaksin Shinawatra. Mereka mengancam akan turun ke jalan.

Gugatan

Sebagai tambahan tekanan kepada pemerintahan baru, Partai Puea Thai, bentuk baru Partai Kekuatan Rakyat (PPP) yang memimpin koalisi berkuasa, mengajukan gugatan terhadap Partai Demokrat di Komisi Pemilihan, Selasa. Gugatan diajukan setelah Abhisit tampaknya bersekutu dengan politisi Newin Chidchob yang dilarang berpolitik pascapembubaran PPP. Newin membelot dari koalisi berkuasa dan mendukung Abhisit.

Dalam gugatan itu, Puea Thai menyertakan foto yang menampilkan Abhisit tengah memeluk Newin saat Partai Demokrat berupaya memperoleh dukungan lebih banyak dari anggota parlemen untuk memenangi pemilihan di parlemen.

Anggota Komisi Pemilihan Thailand, Prapun Naigowit, seperti dikutip Bangkok Post edisi Selasa, mengatakan, persekutuan itu berpotensi melanggar Pasal 96 dan Pasal 98 Konstitusi Thailand. Jika terbukti, gugatan itu bisa berujung pada pembubaran Partai Demokrat.

Faksi Newin di parlemen tengah melobi Partai Demokrat untuk mendapatkan lebih banyak kursi di kabinet. (ap/afp/fro)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau