Tak Bisa Sembarangan Pakai Alat Kontrasepsi

Kompas.com - 17/12/2008, 09:48 WIB

KONTRASEPSI tentu sudah akrab di telinga kita. Sebab, seiring pergesaran pola pikir dalam perencanaan jarak kelahiran anak, pemakaian alat kontrasepsi semakin populer, terutama di kalangan kaum ibu.

Sejalan dengan tingginya kebutuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan, alai kontrasepsi terus berkembang sehingga kian beragam. Salah satu contoh perkembangan alat kontrasepsi terbaru adalah kondom bagi perempuan atau female condom. Fungsi kondom perempuan ini adalah menampung sperma agar tidak bertemu dengan sel telur.

Semakin beragamnya alat kontrasepsi menguntungkan para pengguna (akseptor). Sebab, mereka lebih leluasa memilih kontrasepsi yang paling pas bagi dirinya. Namun, di sisi lain, pilihan yang semakin banyak itu bisa membingungkan, terutama bagi pemakai pemula. Jadi, ada baiknya kita memiliki pemahaman dasar tentang jenis kontrasepsi.

Pada prinsipnya, pemakaian alai kontrasepsi, apa pun jenis dan bentuknya, bertujuan mencegah kehamilan akibat bertemunya sel telur yang sudah matang dengan sperma di dalam rahim.

Jenis kontrasepsi bagi perempuan beragam. Namun, secara umum bisa kita bagi jadi tiga, yakni kontrasepsi mekanik, kontrasepsi hormonal, dan kontrasepsi mantap.

Kontrasepsi mekanik merupakan kontrasepsi dengan memakai alat yang dapat mencegah sperma bertemu dengan sel telur. Jenis kontrasepsi mekanik, antara lain female condom dan pemasangan spiral pada rahim perempuan.

Dengan pemasangan spiral, sel telur yang sudah dibuahi tidak dapat bersarang di rahim sehingga gugur dalam bentuk menstruasi. "Saya lebih suka menganjurkan perempuan menggunakan spiral karena pemasangannya cukup sekali untuk jangka waktu relatif lama," ujar Boyke Dian Nugraha, dokter spesialis kandungan Klinik Pasutri yang terletak di kawasan Tebet, Jakarta.

Kontrasepsi spiral bentuknya bermacam-macam. Ada yang berbentuk huruf S (lippes loop), angka tujuh (copper seven), dan mirip huruf T (copper T). "Yang paling banyak digunakan saat ini adalah spiral jenis T," ujar Boyke.

Ada efek sampingnya

Adapun kontrasepsi hormonal merupakan kontrasepsi yang menggunakan hormon. Hormon ini di sini bisa berupa hormon progesteron atau campuran antara hormon estrogen dan progesteron. Prinsip kerja hormon progesteron adalah mencegah pengeluaran sel telur dari indung telur dan mengentalkan cairan di leher rahim sehingga sulit ditembus sperma. "Penggunaannya bisa dalam bentuk pil, suntikan, dan susuk," ujar Boyke.

Kontrasepsi mantap (kontap) merupakan kontrasepsi yang bersifat permanen. Kontap biasanya dilakukan pasangan yang merasa sudah tidak ingin menambah keturunan lagi. Kontap pada perempuan adalah dengan cara tubektomi, "Yaitu dengan mengikat saluran telur dengan tindakan operasi," kata Boyke.

Meski sama-sama berfungsi mencegah kehamilan, masing-masing alat kontrasepsi punya indikasi dan efek samping. Artinya, tidak semua orang cocok memakai alat kontrasepsi tertentu. "Jadi, ada baiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter kandungan sebelum memilih alat kontrasepsi," kata M Lutfi Alkaff, dokter spesialis obstetri dan ginekologi Rumah Sakit Dokter Sardjito, Yogya.

Jangan remehkan soal ketepatan memilih alat kontrasepsi ini. Jika salah pilih dapat, menimbulkan efek samping yang tak menyenangkan. Pil dan suntik, misalnya, bisa menimbulkan efek samping berupa pusing, mual, bercak hitam pada wajah, dan menambah berat badan.

Adapun ber-KB dengan pil hormon tidak cocok bagi penderita hipertensi, kencing manis, radang pembuluh darah, dan gangguan jantung. (Tunggul Joko Pamungkas)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau