JAKARTA, RABU - Staf Ahli Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Kardaya Warnika mengungkapkan, meski harga minyak mentah telah merosot tajam sebagai dampak krisis sekarang ini, Indonesia masih cukup menarik bagi kegiatan pencarian minyak dan gas (migas).
"Meski sudah merosot sampai sekitar 40-an dollar AS per barrel, secara keekonomian masih cukup aman. Masih layak, meski tidak begitu banyak keuntungannya," katanya di Jakarta, Rabu (17/12).
Menurut dia, saat berbicara dalam diskusi dampak krisis global yang diselenggarakan Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo), kelayakan proyek migas akan makin besar kalau iklim investasi juga semakin baik. Hal senada dikemukakan Presiden Direktur PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) Suwito Anggoro.
Menurut dia, krisis finansial memang akan berdampak pada kegiatan
bisnis Chevron. "Kami akan kaji biaya-biaya yang tidak terkait dengan
minyak," katanya.
Namun, lanjutnya, Chevron akan tetap melanjutkan investasinya di
Indonesia selama iklimnya tetap menarik.
Suwito mengatakan, pihaknya berharap pemerintah memberikan insentif agar kegiatan usaha migas khususnya eksplorasi dan upaya peningkatan produksi akan semakin baik.
Pada 2009, Chevron akan mengebor sekitar 660 sumur sebagai upaya tetap mempertahankan produksi. Jumlah sumur tersebut naik dibandingkan pada 2008 yang mengebor 528 sumur. "Tahun ini, tingkat produksi sesuai target pemerintah 408.000 barrel per hari," tambahnya.
Suwito menambahkan, sebagai dampak penurunan harga minyak, pihaknya meminta rekanan juga menurunkan harga. "Kita minta mereka untuk duduk bersama lagi. Sebab, saat harga minyak tinggi, mereka juga datang meminta kenaikan harga," katanya.
Selanjutnya, Sekretaris Umum Inkindo Laksmo Imawanto mengatakan, krisis finansial global akan berpengaruh pada usaha jasa konsultansi ke depan.
Inkindo meminta pemerintah merealisasikan belanja infrastruktur yang sebelumnya telah dijanjikan senilai Rp100 triliun. "Kami juga jajaki kerja sama dengan pengusaha negara Timur Tengah, mengingat di kawasan itu tidak terlalu terkena dampak krisis," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang