Bisnis Migas...Masih Moncer lho!

Kompas.com - 17/12/2008, 16:15 WIB

JAKARTA, RABU -  Staf Ahli Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Kardaya Warnika mengungkapkan, meski harga minyak mentah telah merosot tajam sebagai dampak krisis sekarang ini, Indonesia masih cukup menarik bagi kegiatan pencarian minyak dan gas (migas).
    
"Meski sudah merosot sampai sekitar 40-an dollar AS per barrel,  secara keekonomian masih cukup aman. Masih layak, meski tidak begitu banyak keuntungannya," katanya di Jakarta, Rabu (17/12).
    
Menurut dia, saat berbicara dalam diskusi dampak krisis global yang diselenggarakan Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo), kelayakan proyek migas akan makin besar kalau iklim investasi juga semakin baik. Hal senada dikemukakan Presiden Direktur PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) Suwito Anggoro.
    
Menurut dia, krisis finansial memang akan berdampak pada kegiatan
bisnis Chevron. "Kami akan kaji biaya-biaya yang tidak terkait dengan
minyak," katanya.
    
Namun, lanjutnya, Chevron akan tetap melanjutkan investasinya di
Indonesia selama iklimnya tetap menarik.
    
Suwito mengatakan, pihaknya berharap pemerintah memberikan insentif agar kegiatan usaha migas khususnya eksplorasi dan upaya peningkatan produksi akan semakin baik.
    
Pada 2009, Chevron akan mengebor sekitar 660 sumur sebagai upaya tetap mempertahankan produksi. Jumlah sumur tersebut naik dibandingkan pada 2008 yang mengebor 528 sumur. "Tahun ini, tingkat produksi sesuai target pemerintah 408.000 barrel per hari," tambahnya.
    
Suwito menambahkan, sebagai dampak penurunan harga minyak, pihaknya meminta rekanan juga menurunkan harga. "Kita minta mereka untuk duduk bersama lagi. Sebab, saat harga minyak tinggi, mereka juga datang meminta kenaikan harga," katanya.
    
Selanjutnya, Sekretaris Umum Inkindo Laksmo Imawanto mengatakan, krisis finansial global akan berpengaruh pada usaha jasa konsultansi ke depan.
    
Inkindo meminta pemerintah merealisasikan belanja infrastruktur yang sebelumnya telah dijanjikan senilai Rp100 triliun. "Kami juga jajaki kerja sama dengan pengusaha negara Timur Tengah, mengingat di kawasan itu tidak terlalu terkena dampak krisis," katanya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau