PARIS, KAMIS - Menteri Pertahanan Perancis Herve Morin, Kamis membantah laporan media bahwa Paris siap mengirim balabantuan ke Afganistan untuk menuruti keinginan presiden terpilih Amerika Serikat Barack Obama, menambah tentara di sana.
Morin mengatakan kepada wartawan di Paris bahwa tak ada rencana memperkuat pasukan Prancis di Afganistan. Tapi, ia membuka kemungkinan bahwa Presiden Nicolas Sarkozy mengumumkan langkah itu. "Jika Presiden mempunyai sesuatu untuk diumumkan, ia akan mengumumkannya. Saya tidak mengetahui apa pun," kata Morin.
Ia menanggapi berita di terbitan laman harian "Liberation", yang menyatakan penugasan baru agaknya akan terdiri atas beberapa ratus tentara dan ahirnya membentuk bagian dari "brigade Prancis" di wilayah Afgan.
Pembentukan brigade itu akan cocok dengan alih tanggungjawab keamanan di ibukota Kabul dan daerahnya kepada pasukan Afgan, membebaskan tentara Prancis, yang saat ini ditempatkan di sana, untuk ditugaskan di tempat lain di negara itu, kata harian tersebut.
Sekitar 2.800 tentara Prancis saat ini ditugaskan di Afganistan untuk membantu memerangi perlawanan pejuang Taliban.
Mereka membentuk sekitar lima persen dari tentara Barat, yang ditempatkan di negara terkoyak perang tersebut.
Dengan Prancis dijadwalkan sepenuhnya tergabung dalam persekutuan pertahanan Atlantik utara NATO pada April 2009, pemerintah Prancis wajib mengambil lebih banyak tanggungjawab dalam tugas persekutuan itu, seperti, di Afganistan, kata koran tersebut.
Laporan itu muncul beberapa hari sesudah kelompok bayangan menamakan diri Kubu Revolusioner untuk Afganistan menanam lima batang dinamit di sebuah toko serba-ada Paris dan menuntut penarikan seluruh tentara Prancis dari negara tersebut.
Dalam tenggapan atas kejadian itu, Morin pada Rabu menyatakan Prancis tidak berniat menambah tentaranya di Afganistan.
Satu tentara Prancis tewas dan satu orang lain luka parah akibat ledakan ranjau di Afganistan pada ahir November, kata tentara Prancis.
Ranjau itu meledak ketika tentara itu meronda dengan tentara Afganistan di baratdaya ibukota Afganistan, Kabul, kata jurubicara pasukan Christophe Prazuck.
Korban terahir itu menjadikan 24 jumlah tentara Prancis tewas dalam tugas atau kecelakaan di Afganistan sejak tentara Prancis dikirim ke sana pada 2002.
Peristiwa itu terjadi tiga bulan setelah pejuang Taliban menewaskan 10 tentara Prancis dan melukai 21 orang lain dalam pertempuran besar dekat Kabul, dalam kematian terbesar tentara asing dalam pertempuran di Afganistan sejak 2001.
Presiden Prancis Nicolas Sarkozy mengirim tentara tambahan ke Afganistan menyusul pembunuhan Agustus itu dan pada ahir November tersebut, ia mengutuk kekerasan terahir itu.
Sepuluh tentara NATO Prancis tewas dan 21 luka pada tengah Agustus dalam pertempuran dengan Taliban di dekat Kabul, ibukota Afgan, kata Presiden Nicolas Sarkozy. "Mereka tewas dalam tugas pengintaian bersama dengan tentara negara Afgan," kata pernyataan Sarkozy.
Pejabat tentara di Kabul menyatakan bentrok itu dimulai dengan serangan atas ronda Pasukan Bantuan Keamanan Asing (ISAF) pimpinan NATO di daerah Sarobi, sekitar 50 kilometer timur ibukota itu.
Jurubicara kementerian pertahanan Afgan Jenderal Mohammad Zahir Azimi menyatakan 13 pejuang, termasuk seorang warga negara Pakistan, juga tewas akibat bentrok tersebut.