JAKARTA, JUMAT - Krisis keuangan dunia yang diperkirakan masih akan terasa pada 2009 dipredikasi akan memicu meningkatnya kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) di industri perbankan nasional. "Semua bank akan terkena kredit bermasalah tak terkecuali bank swasta nasional dan asing," kata ekonom Dradjad Wibowo di Jakarta, Jumat (19/12).
Menurut dia, kredit bermasalah di bank BUMN kemungkinan terkait dengan kredit di sektor pertambangan, perkebunan serta sebagian properti. Sementara, di bank lain kebanyakan kredit di sektor konsumsi dan sebagian properti.
Dradjad yang juga anggota Komisi XI DPR itu mengatakan, risiko kredit macet di beberapa sektor saat ini sudah mengalami peningkatan. Terutama sekali, di sektor perkebunan, pertambangan, properti dan konsumsi.
Makin membengkaknya kredit bermasalah di beberapa sektor itu akibat anjloknya harga komoditas dunia akan menyebabkan terganggunya arus kas penerimaan. Kondisi itu membuat debitor akan sulit untuk melunasi utang-utangnya, katanya.
Selain itu, para debitor itu juga menghadapi kesulitan likuiditas. Karena, importir yang membeli barang membayarnya dari semula satu bulan menjadi dua bulan. Karena, mereka meminta penangguhan pembayaran. "Dengan risiko kredit maupun risiko likuiditas akan meningkatkan NPL. Ini perlu diwaspadai oleh perbankan," tuturnya.
Dia mengatakan, NPL akan naik bisa di atas tiga persen. Karena itu, ia minta agar industri perbankan dapat menyikapi potensi kenaikan NPL dari sekarang sehingga kenaikannya tidak terlalu signifikan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang