Monumen

Dari Ganefo hingga Asian Beach Games

Kompas.com - 20/12/2008, 01:25 WIB

Api Abadi Mrapen, menurut legenda, ditemukan kali pertama oleh Sunan Kalijaga ketika bersama pengikutnya dalam perjalanan jauh dari Kerajaan Majapahit ke Demak kesulitan memperoleh api dan air.

Setelah berdoa bersama pengikutnya agar Tuhan memberikan api dan air, Sunan Kalijaga menancapkan tongkatnya ke tanah, lalu muncul semburan api. Lokasi ini kemudian dikenal sebagai api alam atau api abadi. Semburan api berasal dari tanah dalam bentuk gas, dengan pusat semburan berdiamater 1,5 meter kemudian ditumpuki batu kapur agar tidak membahayakan pengunjung. Api akan padam dengan sendirinya ketika hujan deras tiba.

Setelah itu beliau bergerak ke arah timur dan kembali menancapkan tongkatnya, keluarlah air cukup jernih. Berdasarkan penelitian para ahli, air yang berwarna hijau kekuning-kuningan, berbau agak busuk, bersuhu sekitar 35 derajat, mengandung silikon dioksida (SiO2), chlorida (C12), sulfat (SO4), besi (Fe), mangaan (Mn), asam carbonat (HCO3), calcium (Ca), magnesium (Mg), phosphat (PO 4), carbondioksida (CO2), asam belerang (H2S), amonia (NH), dan aluminium (Al). Air sendang ini konon bisa menyembuhkan berbagai jenis penyakit kulit.

Jika semburan api mengecil dan memungkinkan lenyap dari permukaan bumi, seperti yang dikhawatirkan Rubiatno, sebutan Api Abadi Mrapen dengan sendirinya lenyap.

”Itu artinya Api Abadi Mrapen tidak lagi memiliki nilai jual lagi. ’Mumpung’ belum telanjur kami berharap para ahli bisa turun ke lapangan membantu kami,” kata Rubiatno, juru kunci Mrapen.

Api Abadi Mrapen untuk kali pertama diambil untuk upacara pembukaan Games of the New Emerging Forces (Ganefo) I pada 1 November 1963. Ganefo I adalah ”ciptaan” Presiden Soekarno yang digelar di Jakarta. Ganefo diikuti 2.200 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Eropa. Ajang olahraga itu diliput sekitar 450 wartawan, tetapi diboikot negara Barat.

Munculnya Ganefo adalah bentuk kemarahan Soekarno karena pada Asian Games Jakarta 1962, Indonesia melarang Israel dan Taiwan untuk berpartisipasi sebab lebih bersimpati pada Republik Rakyat Cina serta negara Arab.

Indonesia diprotes Komite Olimpiade Internasional yang mempertanyakan legitimasinya karena Israel dan Taiwan anggota resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Akibatnya, Indonesia tak diperbolehkan mengikuti Olimpiade Tokyo 1964. Akhirnya Indonesia menyatakan keluar dari Komite Olimpiade Internasional karena organisasi olahraga tersebut dianggap antek imperialis dan setahun kemudian menggelar Ganefo I.

Sebenarnya Ganefo II dijadwalkan digelar di Kairo, Mesir, pada 1967, tetapi akhirnya dibatalkan terkait dengan masalah politik sehingga Ganefo yang bersemboyan onward no retreat atau maju terus pantang mundur hanya berlangsung sekali. Meski demikian, agar sejarah olahraga yang diwarnai politik ini masih tetap dikenang, dibangun monumen sederhana pengambilan api abadi Ganefo I di kompleks Api Abadi Mrapen.

Selain itu, di kompleks Mrapen juga dijumpai monumen pengambilan api PON X, 9 September 1981, dan PON XIV, 23 Agustus 1996. Pengambilan api untuk peresmian Stadion Sriwedari, Surakarta, PON XII, 6 Oktober 1989, dan pembukaan Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwarnas) I, 9 Februari 1983, yang dipimpin Gubernur Jawa Tengah Soepardjo Roestam tidak ”dimonumenkan”.

Sampai sekarang, Api Abadi Mrapen tetap dijadikan langganan umat Buddha, khususnya di Jawa Tengah, setiap kali digelar upacara Waisak di Candi Borobudur. Selain itu, penyelenggaraan Asian Beach Games I di Bali, 18-24 Oktober 2008, juga mengambil api abadi dari Mrapen. Api dari Mrapen diambil pada 8 Oktober. (Sup)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau