Elpiji Masih Langka, Pejaja Makanan Peras Otak

Kompas.com - 20/12/2008, 06:46 WIB
JAKARTA, SABTU - Pasokan elpiji di Jakarta dan Tangerang sampai Jumat (19/12) belum normal. Keadaan ini membuat pedagang makanan skala kecil yang tetap berjualan harus memutar otak. Caranya, selain tidak memakai elpiji secara terus-menerus, mereka juga menggunakan kayu bakar.

Belakangan ini pedagang yang tergabung dalam kelompok usaha kecil dan menengah memang mendapat pasokan elpiji terutama tabung isi 3 kilogram dari pimpinan kelompok sehingga mereka bisa bertahan.

Demikian keterangan dari sejumlah pedagang mi ayam, bakso, nasi uduk, gorengan, dan warung makan di Jakarta dan Tangerang pada Jumat kemarin. Kendati tetap bertahan, umumnya pedagang berharap pemerintah bertanggung jawab atas program konversi gas dengan menyediakan bahan bakar elpiji.

Pasokan elpiji ke pangkalan sampai kemarin belum normal. Ny Suryati, pemilik pangkalan elpiji di Cipadu Kota Tangerang, mengeluh tiga minggu terakhir pasokan gas minim.

Biasanya per minggu ia mendapat pasokan sembilan truk elpiji. Tiap truk berisi 500 tabung elpiji isi 3 kg, tetapi kini hanya mendapat bagian lima truk.

”Gara-gara pasokan kurang, hampir tiap hari orang berebut elpiji. Malah ada yang sampai berantem di rumah saya,” kata Suryati.

Harga elpiji isi 3 kg melambung dari Rp 13.500 kini Rp 14.000- Rp 15.000 per tabung. Pengecer menjual rata-rata Rp 16.000 per tabung. ”Ini bukan karena harga elpiji naik, tapi untuk memberi tambahan uang makan bagi sopir pengangkut elpiji yang antre sampai dua malam di stasiun pengisian elpiji,” katanya.

Kiat pedagang

Kelangkaan elpiji membuat Joni, pedagang mi ayam di Bintaro, Tangerang, memilih berhemat elpiji dengan cara sering mematikan gas jika tidak ada pembeli. ”Setelah kuah mendidih, saya matikan gas dan baru hidupkan kompor lagi kalau sudah ada pembeli,” kata Joni.

Cara ini juga dilakukan Hamid (51), pedagang mi bakso di Kebayoran Lama. Dengan sering mematikan gas, pedagang beromzet Rp 150.000-Rp 200.000 per hari ini bisa menghemat penggunaan gas.

”Biasanya satu tabung kecil habis tiga-empat hari. Dengan berhemat, elpiji bisa bertahan hingga lima-enam hari,” ujar Hamid.

Lain lagi dengan Karmila (52), pedagang nasi uduk di Pondok Pucung Karang Tengah, Kota Tangerang. Saat harga elpiji terus naik sejak sebelum Lebaran, dia menggunakan kayu bakar untuk merebus air dan menanak nasi.

Belakangan, sejak elpiji menghilang, Karmila memakai kayu bakar untuk semua proses memasak. Mulai merebus air, menanak nasi, memasak semur, hingga menggoreng ayam, tahu dan tempe.

”Habis enggak ada gas lagi,” kata Karmila yang beruntung karena pasokan kayu dari tukang becak. Menurut Mila memakai kayu bakar bisa menghemat pengeluaran. ”Setelah pakai kayu bakar hampir tak ada uang keluar untuk bahan bakar,” kata Mila yang memberi upah kepada tukang becak sebatas uang rokok.

Diyono (47), pemilik warung makan di Cipulir, Jakarta Selatan, mengatakan, sepekan terakhir terpaksa memakai kayu bakar untuk menanak nasi dan merebus air karena tidak lagi memiliki persediaan elpiji.

Pemilik bakmi Kondang Sakijan mengatakan, pihaknya menyuplai elpiji untuk 200 pedagang mi ayam dalam kelompoknya jika gas langka. Ia berburu elpiji ke mana-mana agar usaha anggotanya jalan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau