Belakangan ini pedagang yang tergabung dalam kelompok usaha kecil dan menengah memang mendapat pasokan elpiji terutama tabung isi 3 kilogram dari pimpinan kelompok sehingga mereka bisa bertahan.
Demikian keterangan dari sejumlah pedagang mi ayam, bakso, nasi uduk, gorengan, dan warung makan di Jakarta dan Tangerang pada Jumat kemarin. Kendati tetap bertahan, umumnya pedagang berharap pemerintah bertanggung jawab atas program konversi gas dengan menyediakan bahan bakar elpiji.
Pasokan elpiji ke pangkalan sampai kemarin belum normal. Ny Suryati, pemilik pangkalan elpiji di Cipadu Kota Tangerang, mengeluh tiga minggu terakhir pasokan gas minim.
Biasanya per minggu ia mendapat pasokan sembilan truk elpiji. Tiap truk berisi 500 tabung elpiji isi 3 kg, tetapi kini hanya mendapat bagian lima truk.
”Gara-gara pasokan kurang, hampir tiap hari orang berebut elpiji. Malah ada yang sampai berantem di rumah saya,” kata Suryati.
Harga elpiji isi 3 kg melambung dari Rp 13.500 kini Rp 14.000- Rp 15.000 per tabung. Pengecer menjual rata-rata Rp 16.000 per tabung. ”Ini bukan karena harga elpiji naik, tapi untuk memberi tambahan uang makan bagi sopir pengangkut elpiji yang antre sampai dua malam di stasiun pengisian elpiji,” katanya.
Kiat pedagang
Kelangkaan elpiji membuat Joni, pedagang mi ayam di Bintaro, Tangerang, memilih berhemat elpiji dengan cara sering mematikan gas jika tidak ada pembeli. ”Setelah kuah mendidih, saya matikan gas dan baru hidupkan kompor lagi kalau sudah ada pembeli,” kata Joni.
Cara ini juga dilakukan Hamid (51), pedagang mi bakso di Kebayoran Lama. Dengan sering mematikan gas, pedagang beromzet Rp 150.000-Rp 200.000 per hari ini bisa menghemat penggunaan gas.
”Biasanya satu tabung kecil habis tiga-empat hari. Dengan berhemat, elpiji bisa bertahan hingga lima-enam hari,” ujar Hamid.
Lain lagi dengan Karmila (52), pedagang nasi uduk di Pondok Pucung Karang Tengah, Kota Tangerang. Saat harga elpiji terus naik sejak sebelum Lebaran, dia menggunakan kayu bakar untuk merebus air dan menanak nasi.
Belakangan, sejak elpiji menghilang, Karmila memakai kayu bakar untuk semua proses memasak. Mulai merebus air, menanak nasi, memasak semur, hingga menggoreng ayam, tahu dan tempe.
”Habis enggak ada gas lagi,” kata Karmila yang beruntung karena pasokan kayu dari tukang becak. Menurut Mila memakai kayu bakar bisa menghemat pengeluaran. ”Setelah pakai kayu bakar hampir tak ada uang keluar untuk bahan bakar,” kata Mila yang memberi upah kepada tukang becak sebatas uang rokok.
Diyono (47), pemilik warung makan di Cipulir, Jakarta Selatan, mengatakan, sepekan terakhir terpaksa memakai kayu bakar untuk menanak nasi dan merebus air karena tidak lagi memiliki persediaan elpiji.
Pemilik bakmi Kondang Sakijan mengatakan, pihaknya menyuplai elpiji untuk 200 pedagang mi ayam dalam kelompoknya jika gas langka. Ia berburu elpiji ke mana-mana agar usaha anggotanya jalan.