Wapres: Jangan Obral Pengelolaan Hutan

Kompas.com - 20/12/2008, 12:42 WIB

Laporan wartawan Kompas Suhartono

BANJARMASIN, SABTU — Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla meminta agar pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten di Indonesia tidak mengobral perizinan dalam pengelolaan hutan dan sumber daya alam.

Sebab, jika tidak dibatasi, kawasan hutan dan sumber daya alam seperti di Kalimantan Selatan akan habis. Jika habis, pemerintah provinsi dan kabupaten serta masyarakat akan dinilai menghabisi sumber daya alam di kawasan ini, yang seharusnya diwarisi kepada anak cucu kita.

Wapres Kalla menegaskan hal itu saat memberikan pengarahan di acara pembukaan rapat tentang batu bara dan besi baja, yang dilakukan di lantai II Kantor Cabang PT Pelindo di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu (20/12) siang waktu setempat.

Dalam kunjungan itu, Wapres Kalla didampingi oleh Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil, Menteri Perhubungan Jusman Safeii Djamal, dan Menteri Dalam Negeri Mardiyanto. Hadir pula pimpinan PT Krakatau Steel, Gubernur Rudy Arifin, dan pimpinan daerah lainnya.

"Tolak saja izin pengelolaan hutan jika memang sudah banyak. Karena pemerintah harus menjaga dengan baik agar tidak habis sumber daya alam dan energi itu. Kalau habis, kita akan ditanya mana warisan anak cucu kita? Jadi, kelolalah dengan baik, warisan kekayaan alam yang kita miliki ini dengan baik," ujarnya.

Menurut Wapres Kalla, pemerintah daerah harus tegas dan tidak ragu. "Kalau memang sudah banyak yang mengajukan untuk pengelolaan izin hutan, tolak saja. Jangan berpikir-pikir lagi," lanjutnya.

Wapres Kalla menambahkan, sebagian hutan Indonesia sudah habis karena kayunya diekspor ke Jepang. "Jangan sampai kekayaan kita yang lain habis lagi," lanjut Wapres Kalla.

Sebelumnya, Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Arifin menyatakan bahwa hingga kini masih banyak perizinan pengelolaan kawasan hutan untuk tambang yang masih mengantre. Padahal, tambahnya, sudah banyak yang mendapatkan izin tersebut. Ia meminta pertimbangan Wapres Kalla bagaimana cara mengatasinya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau